RADARWONOGIRI.COM-Kerajinan bambu menjadi potensi Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri. Sayangnya, industri kecil menengah (IKM) itu dihadapkan pada masalah pemasaran.
Menyikapi fenomena tersebut, Wakil Bupati (Wabup) Wonogiri Setyo Sukarno meminta para perajin tak berkecil hati. Pemkab Wonogiri berupaya memberikan solusi.
"Bisa diikutkan ke pameran," ujarnya usai menyerahkan alat produksi IKM kerajinan bambu, Kamis (3/8/2023).
Dari kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, maka produksi kerajinan bambu dan pemasaran bisa meningkat. Begitu pula kesejahteraan perajin.
"Kami (Pemkab Wonogiri) hadir dalam bentuk memberikan kemudahan akses kredit produktif di perusda perbankan," kata Setyo Sukarno.
Adanya bantuan alat produksi, wabup berharap bisa mempermudah produksi kerajinan.
Diibaratkan, bantuan alat itu seperti memberikan kail dan bukan ikan.
Perajin diharapkan tetap memiliki semangat untuk bekerja, semangat mandiri, dan terus berusaha.
"Pada kelanjutannya, upaya tersebut, ditargetkan mampu menjadi bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan," ungkapnya.
Namun, Pemkab Wonogiri tak begitu saja memberikan bantuan tersebut.
Untuk memastikan benar-benar berkontribusi positif menanggulangi kemiskinan, dilakukan pendampingan dan bimbingan.
"Sehingga bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tepat guna," terangnya.
Diketahui, bantuan yang diserahkan kepada 12 kelompok usaha di enam dusun itu antara lain 12 mesin potong bambu, 12 mesin belah bambu.
Berikutnya, 12 mesin irat bambu, 12 mesin pembuat lidi, 18 kompresor ¼ PK dan 18 unit sprayer cat.
Bantuan itu berasal daru DAK fisik dan nonfisik senilai Rp 831 juta.
"Selain alat produksi, para perajin diberi pelatihan produksi dan standarisasi produk," ujar Kepala Dinas KUKM dan Perindag Wonogiri Wahyu Widayati.
Sementara itu, Ketua IKM Anyaman Bambu Desa Pucanganom Anjar mengatakan, ada 335 perajin bambu di desanya. Kendala pemasaran dialami untuk produk baru.
“Produk bambu yang masih terbilang baru, seperti kap lampu aneka bentuk, kotak keranjang hantaran, tas atau dompet yang terkendala. Kalau produk lama, seperti caping sudah ada pengepul. Jadi pemasarannya tidak terlalu masalah," paparnya. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono