Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Upacara 17-an Terapung di Genangan Waduk Gajah Mungkur, Ditutup Penampilan Paralayang Bawa Bendera Merah Putih

Iwan Adi Luhung • Kamis, 17 Agustus 2023 | 17:08 WIB
Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-78 digelar secara terapung di Waduk Gajah Mungkur, Kamis (17/8).
Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-78 digelar secara terapung di Waduk Gajah Mungkur, Kamis (17/8).

RADARWONOGIRI.COM - Peringatan HUT RI ke-78 di Wonogiri diwarnai upacara yang cukup unik. Upacara bendera digelar secara terapung di genangan Waduk Gajah Mungkur (WGM) tepatnya di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri Kota Kamis (17/8) pagi.

Upacara tersebut diikuti 400 peserta. Baik yang mengikuti di atas perahu maupun yang ada di darat. Para peserta terdiri dari anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana), nelayan, difabel Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pedagang di wilayah WGM. Setidaknya, ada 83 perahu yang berjejer membawa para peserta itu.

Bupati Wonogiri Joko Sutopo turun langsung menjadi inspektur upacara di lokasi tersebut dan berdiri bersama ajudannya di atas mimbar terapung yang disediakan. Para peserta nampak khidmat mengikuti upacara dengan berdiri di atas perahu.

Pengibaran bendera juga dilakukan di atas perairan WGM. Sebuah tiang bendera terpasang di mimbar terapung. Saat tiba waktu pengibaran bendera, tiga petugas pengibar bendera yang sebelumnya berada di atas perahu di pinggir genangan merapat ke mimbar terapung itu.

Selepas upacara, beberapa penerbang paralayang turun di pinggiran WGM. Mereka terbang membawa bendera merah putih. Riuh tepuk tangan menggema saat itu.

"Kita bisa melihat, Wonogiri punya potensi yang luar biasa. Salah satunya potensi perikanan di WGM," ujar Joko Sutopo usai upacara.

Menurut dia, potensi produksi perikanan mencapai 6.000 ton. Itu juga menjadi salah stu potensi ekonomi di Kota Sukses.

Pria yang akrab disapa Jekek itu mengatakan upacara di genangan WGM itu adalah salah satu wujud improvisasi atas potensi yang ada. Dan seluruh elemen akhirnya bisa memiliki kesadaran untuk merawat WGM seisinya.

"Semua pihak punya kesadaran kolektif untuk merawat ekologinya, fasilitasnya juga infrastrukturnya. Itu menjadi kewajiban para pelaku ekonomi di WGM juga," beber dia.

Bupati menilai, WGM adalah aset yang harus dirawat dan dijaga. Itu demi keberlangsungan dan tetap berjalannya roda ekonomi atas manfaat dari WGM.

Jekek menyebut, ada sekitar 6.000 nelayan di WGM. Dengan terawatnya WGM, stabilitas ekonomi para nelayan juga bisa terjaga.

Koordinator Tagana Wonogiri Sugiyanto menerangkan, awalnya Tagana ingin mengadakan upacara untuk memperingati hari kemerdekaan di genangan WGM. Tujuannya adalah meningkatkan rasa nasionalisme dengan mengajak para nelayan.

"Juga kita ingin mengangkat kembali WGM yang merupakan ikon Wonogiri. Karena Tagana di bawah Dinsos, kita lapor ke Bu Kadin dan kemudian Bu Kadin minta izin ke Pak Bupati. Ternyata malah Pak Bupati kersa menjadi inspektur," papar dia.

Sugiyanto menuturkan, upacara di genangan WGM dengan konsep seperti itu dulu juga pernah dilakukan. Namun itu sudah belasan tahun lalu. (al)

Editor : Damianus Bram
#Upacara 17an Terapung #HUT ke-78 Kemerdekaan RI #HUT RI ke-78