RADARSOLO.COM-Dampak kemarau panjang mulai dirasakan warga di Wonogiri sisi selatan. Karena beberapa sumber air, dilaporkan debit airnya mulai menyusut. Salah satunya sumber air Banyutowo, Desa/Kecamatan Paranggupito.
Pemkab Wonogiri memberi perhatian serius terhadap laporan tersebut. Karena dikhawatirkan, debit sumber air di wilayah selatan akan berpotensi mengering dalam kurun dua bulan ke depan.
Selain Banyutowo, sisi selatan juga mengandalkan sumber air Waru, Desa Gunturharjo, Paranggupito. Termasuk Luweng Songo, Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro.
“(Sumber air di) selatan sudah (menyusut). Sumber air Banyutowo di Paranggupito, debit air sebelumnyanya 8 liter per detik. Sekarang menyusut menjadi 6 liter per detik,” ungkap bupati yang akrab disapa Jekek ini, Kamis (24/8/2023).
Mengantisipasi dampak kekeringan, pemkab menganggarkan pipanisasi Rp 3,9 miliar dari APBD Perubahan 2023. Diharapkan jaringan distribusi umum (JDU) air bersih bisa diperluas. “Artinya apa? Ketersediaan air bisa diperluas. Dilakukan manajerial air, dibagi dengan JDU itu,” imbuh Jekek.
Setelah JDU kelar, disusul pembuatan sambungan rumah (SR) dengan anggaran Rp 3 miliar. Rencananya, SR akan mengaliri 3.000 unit rumah. Tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis.
Direktur PDAM Giri Tirta Sari Wonogiri Sumarjo menyebut, pipanisasi mayoritas menyasar Kecamatan Paranggupito. Sisanya dibagi ke Kecamatan Giritontro. Dia juga mengaku debit air sejumlah sumber menurun.
“Semua sama. Baik sumber air dari PDAM maupun sumur warga. Wajar itu. Sumber air Waru tinggal 5 liter per detik. Kalau musim penghujan bisa 30 liter per detik. Juga dimanfaatkan warga Paranggupito,” paparnya.
Soal pengaturan atau penjadwalan air yang mengalir, karena belum semua warga memasang SR. karena mayoritas baru akan dipasang akhir tahun ini. “Kan banyak HU (hidran umum) di sana.
Masih dijadwalkan untuk SR, karena jaringannya belum semuanya lengkap. Debit air juga berkurang,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Paranggupito Catur Susilo Prono mengaku ada warga yang terpaksa membeli air bersih ke swasta. Terutama di Desa Songbledeg. “Kalau sebelah timur seperti Desa Gendayakan, Gunturharjo, dan Johunut masih baik,” bebernya. (al/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono