Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tak Ada Bukti CCTV, Begini Akhir Kasus Siswa SMK di Wonogiri Jalan Kaki Bawa Poster 'Aku Bukan Pencuri'

Iwan Adi Luhung • Sabtu, 4 November 2023 | 23:21 WIB
Foto yang beredar di media sosial, siswa SMK di Wonogiri jalan kaki membawa poster yang menegaskan bukan pencuri.
Foto yang beredar di media sosial, siswa SMK di Wonogiri jalan kaki membawa poster yang menegaskan bukan pencuri.

RADARSOLO.COM - Perkara MI, siswa SMK di Wonogiri yang berjalan kaki membawa poster 'Aku Bukan Pencuri' akhirnya happy ending. Sang siswa yang dalam aksi jalan kakinya menuntut keadilan karena merasa dituduh mencuri di apotek saat PKL, telah dinyatakan tak bersalah.

Hal tersebut disampaikan oleh Achmad Fadlillah Salam, paman sekaligus wali dari MI.

Achmad mengatakan, mediasi pihak sekolah atau SMK Bhakti Mulia dengan keluarga digelar usai MI melakukan aksi jalan kaki sembari membawa poster bertuliskan 'Aku Anak Yatim, Bukan Pencuri' pada Selasa (31/10) lalu.

Berdasarkan hasil mediasi itu, kata dia, dinyatakan bahwa MI tidak bersalah.

"Damai sorenya. Syaratnya sekolah mau mencari bukti CCTV," kata dia, Sabtu (4/11).

Menurut Achmad, sekolah meminta waktu sepekan untuk mencari bukti tersebut. Namun, pihak keluarga menilai waktu sepekan terlalu lama. Hingga akhirnya disepakati batas waktu tiga hari guna mencari bukti.

Kemudian, pada Kamis (2/11) lalu, keluarga MI datang ke sekolah. Rencananya, pihak keluarga akan mencabut surat damai jika memang bukti atas dugaan melakukan pencurian di apotek itu masih belum kuat.

"Sampai di sana, sekolah memberi keterangan jika anak tidak bersalah," kata Achmad.

Dia menambahkan, dalam kasus tersebut tidak ada bukti CCTV. Setelah dinyatakan tak bersalah, kemudian antara keluarga dan pihak-pihak terkait juga dilakukan perdamaian tertulis.

Menurut Achmad, MI juga sudah masuk sekolah seperti biasa. Baik pihak keluarga dan sekolah telah saling memaafkan.

Lebih jauh, Achmad menerangkan, saat awal perkara ini mencuat, pihak keluarga MI dipanggil ke sekolah.

Saat itu, dia diberi informasi tentang kejadian di apotek. Termasuk dugaan MI mengambil uang sebesar Rp 66.000 saat magang di apotek tersebut.

"Saya saat itu tanya buktinya apa? Dijawab CCTV. Dijelaskan isi rekaman CCTV itu, baru cerita. Dari cerita itu, belum ada yang membenarkan mengambil uang kasir. Tapi ya sudah masalah itu dianggap selesai dan saya mengganti (uang Rp 66.000)," terang dia.

Di kemudian hari, imbuh Achmad, MI berangkat sekolah kesiangan. Saat ditanya oleh guru, MI menjawab bahwa masih ada masalah, yakni terkait tuduhan mengambil uang di apotek.

Sang guru pun mengatakan jika masalah itu sudah selesai. Namun, MI justru menjawab urusan dengan wali atau keluarganya memang telah selesai. Tapi, dia sendiri merasa masalah itu belum rampung.

Guru itu mempertanyakan bukannya masalah tersebut sudah selesai.

"Anak (MI) ini menjawab 'kalau urusan sama wali murid sudah selesai. Tapi kalau sama saya belum. Karena saya tidak merasa mencuri'. Nah, guru itu mengatakan, jika tidak mencuri suruh buktikan," beber Achmad.

Sepulang sekolah, MI mengadu ke Achmad jika diminta untuk membuktikan bahwa dia memang bukan pencuri. Achmad pun mengaku cukup bingung. Karena menurut dia, biasanya yang membuktikan itu yang menuduh, bukan yang dituduh.

Bahkan, diakui Achmad, saat awal masalah itu muncul, dia pun sempat menaruh curiga kepada sang keponakan dan menyangka jika MI telah mencuri.

Namun, karena praduga tak bersalah dari anak terus berjalan, dia membiarkan anak tersebut.

"Saya tahu pagi dia ke sekolah bawa poster. Tapi saya tidak mempersilakan, tidak mengarahkan, biar berjalan saja," kata Achmad.

Dia sendiri tidak tahu dari mana asal usul poster itu diperoleh MI. Termasuk dari mana ide tersebut muncul.

Sebelumnya, beredar di media sosial foto seorang siswa yang berjalan kaki membawa poster tulisan tangan.

Poster itu bertuliskan sebuah pengakuan bahwa siswa yang bersangkutan bukan seorang pencuri, seperti yang dituduhkan pihak-pihak tertentu kepadanya.

Dalam foto yang beredar, tampak seorang siswa laki-laki yang memakai jas almamater berwarna biru muda. Siswa itu memakai celana panjang berwarna abu-abu, khas seragam SMA/SMK.

Yang cukup menarik perhatian, siswa itu membawa poster tulisan tangan yang dipasang di papan.

"Demi Allah aku anak yatim. Bukan pencuri. Tidak seperti yang dituduhkan guru SMK Bhakti Mulia dan Apotek (sensor). Mencari keadilan," demikian tulisan dalam poster itu.

Berdasarkan penelusuran pada foto yang beredar itu, siswa SMK Bhakti Mulia Wonogiri itu berjalan di sekitar lampu merah simpang empat Pokoh Wonogiri Kota pada Selasa (31/10) pagi.

Dia diduga melakukan pencurian sejumlah uang saat melaksanakan PKL di salah satu apotek.

Nah, dalam aksinya itu MI ingin mengatakan jika dia bukan pencuri dan meminta keadilan. (al/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#pkl #jalan kaki #siswa #poster #pencuri #wonogiri