RADARSOLO.COM- Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Wonogiri semakin melonjak. Ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk ekstrawaspada.
Kepala Dinkes Wonogiri Setyarini mengatakan, Kabupaten Wonogiri termasuk daerah endemis DBD di wilayah Jateng.
Terjadi loncakan kasus DBD sejak Februari lalu. Catatan radarsolo.com, pada 26 Februari 2024 ada 24 kasus DBD.
"Ada peningkatan. Sekarang sudah 43 kasus. Tiga orang meninggal dunia," ujar Setyarini usai hadiri Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gertak PSN) di Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri Kota, Jumat (8/3/2024).
Peningkatan kasus DBD tersebut, kata kepala dinkes Wonogiri, tergolong cepat.
Sebab itu, Pemkab Wonogiri mengajak seluruh elemen masyarakat melakukan langkah antisipasi.
"Yang bisa dilakukan masyarakat adalah menggencarkan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Kalau fogging, itu membunuh nyamuk dewasa saja," tegasnya.
Selain itu, nyamuk juga bisa resisten terhadap pestisida yang digunakan untuk fogging.
Karena itu, yang paling efektif dilakukan adalah PSN.
Menurut Setyarini, Gertak PSN tak hanya dilakukan di Kelurahan Giriwono. Tapi serentak di kelurahan lainnya.
Selain itu, juga sudah ada arahan agar dilakukan agenda Jumat bersih, termasuk untuk mengantisipasi DBD.
Setyarini menyebut sebaran kasus DBD terbanyak berada di Kecamatan Baturetno, Girimarto, dan Pracimantoro.
"Baturetno ada 13 kasus. Pracimantoro ada 9 kasus. Sedangkan yang meninggal dari Kecamatan Girimarto, Pracimantoro dan Baturetno," terang dia.
Berkaca dari kasus tersebut, apakah perlu diberlakukan kasus luar biasa (KLB)? Setyarini menjelaskan, KLB diberlakukan jika sekian lama tidak ada kasus, lalu tiba-tiba ada kasus.
"Setiap tahun ada kasus kan, namanya endemis. Tiga tahun berturut-turut ini ada," kata dia.
Sementara itu, Wakil Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mendorong masyarakat lebih giat melakukan PSN.
Pemberantasan sarang nyamuk adalah tugas bersama antara masyarakat dan pemerintah. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono