RADARSOLO.COM - Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri punya cara tersendiri dalam melestarikan lingkungan sekitar. Terutama terkait permasalahan sampah rumah tangga.
Yakni dengan mendirikan pendirian Bank Sampah Buncis yang diinisiasi kaum hawa di Desa Kepatihan.
Ide awal pembentukan bank sampah, merupakan hasil diskusi ibu-ibu anggota dasa wisma (dawis) di Desa Kepatihan.
Didasari rasa keprihatinan melihat banyak warga yang membuah sampah sembarangan.
Terutama dibuah ke sungai, di pinggir jalan, dan pekarangan rumah masing-masing. Tanpa ada upaya reduce, reuse, recycle (3R).
“Ibu-ibu anggota dawis ingin lingkungannya sehat. Saat browsing di internet, muncul ide mendirikan bank sampah,” kata Ketua Bank Sampah Buncis Sri Mulyani mewakili Kepala Desa (Kades) Kepatihan Agus Suyitno.
Hingga akhirnya berdirilah Bank Sampah Buncis pada Februari 2020.
Menginjak usia empat tahun, kini bank sampah tersebut masih eksis.
Bahkan mampu menjaring 150 nasabah.
Tak hanya dari Desa Kepatihan saja, ada juga nasabah dari desa tetangga.
Termasuk desa-desa di Kabupaten Sukoharjo, yang berbatasan langsung dengan Kepatihan.
Diakui Mulyani, pengelolaan bank sampah ini tidak selamanya mulus.
Ada sejumlah kendala dalam prosesnya. keterbatasan ilmu pengelola.
"Selain itu, ada juga yang disibukkan dengan menanam dan memanen padi,” imbuh Mulyani.
Terkait sistem kerja di Bank Sampah Buncis, Mulyani menyebut sangat sederhana.
Nasabah langsung membawa sampah ke bank. Bisa memanggil juga pengelola ke rumah masing-masing.
“Semisal warga sibuk, kami layani via online atau WhatsApp (WA) dulu di grup. Nanti daftar dulu untuk pengambilan sampah. Setelah itu ada petugas yang mengambil ke rumah-rumah,” paparnya.
Terkait jenis sampah yang diterima, Mulyani mengklaim cukup bervariasi.
Mulai dari sampah plastik, kertas, kaca, hingga besi.
Sistemnya, bank membeli sampah dari warga dengan harga bervariasi, tergantung jenisnya.
Ada yang dijual satuan dan juga yang kiloan.
Semisal botol kaca dibanderol Rp 300 per botol. Kemudian, sampah aluminium Rp 8.000 per kilogram (kg).
"Sebagian nasabah sudah ada yang memilah dari rumah. Jadi jenisnya disendirikan. Setelah terkumpul, sampahnya kami jual ke pengepul,” beber Mulyani.
Sementara itu, hadirnya bank sampah terbukti mampu mengurai pencemaran lingkungan di Desa Kepatihan.
Termasuk berkurangnya jumlah warga yang membuang sampah sembarangan.
“Upaya ini juga menjaga iklim. Kalau masalah uang hasil penjualan sampah, itu bonus. Kami tidak fokus ke sana. Paling utama kebersihan lingkungan sekitar,” ujarnya. (al/fer/ria)
Editor : Syahaamah Fikria