RADARSOLO.COM - Selain mete, ada satu lagi camilan khas Kabupten Wonogiri. Apalagi kalau bukan brem khas Kecamatan Nguntoronadi.
Camilan ini bahkan wajib mengisi meja tamu saat Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran tiba.
Brem sudah menjadi camilan ikonik dari Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri.
Sentra produksinya berada di Dusun Tenggar Lor, Desa Gebang. Tercatat belasan industri rumahan brem ada di sana.
“Setiap Lebaran pasti ada brem di meja. Hampir semua warga Nguntoronadi seperti itu. Pasti menyajikan hidangan brem,” kata Camat Nguntoronadi Endrijo Rahardjo kepada Radarsolo.com.
Endrijo mengakui, brem sudah menjadi produk lokal usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Nguntoronadi sejak puluhan tahun silam.
Bahkan sejak masih zaman Betal Lawas alias sebelum Waduk Gajah Mungkur (WGM) dibangun.
“Sampai saat ini sudah menjadi ciri khas Nguntoronadi,” imbuhnya.
Diakui Endrijo, brem menjadi buruan saat bulan suci Ramadhan tiba. Terutama beberapa hari jelang Lebaran.
Tak hanya warga Nguntoronadi, namun juga kecamatan lainnya. Termasuk masyarakat dari luar Wonogiri.
“Banyak kaum boro (perantau) yang memesan brem saat mudik atau pulang kampung. Kadang pesannya banyak, sekalian buat oleh-oleh saat kembali ke perantauan. Dipastikan saat Ramadhan produksi brem meningkat,” paparnya.
Terkait pemasaran, lanjut Endrijo, banyak cara dilakukan para pelaku UMKM brem di Ngadirojo.
Mulai dari jualan door to door, jualan di rumah, memasok ke toko oleh-oleh, mengirim ke pengepul, hingga berjualan secara online.
“Masyarakat luas sudah tahu brem Ngadirojo. Jadi banyak yang beli langsung ke tempat prajinnya,” beber dia.
Mayoritas brem itu dikemas dalam kemasan kecil. Ada pula yang dijual kiloan. Sehingga harganya bervariasi, tergantung beratnya.
“Banyak juga yang beli kiloan. Biasanya pengepul yang beli kiloan. Kemudian di-repacking jadi kemasan kecil-kecil, lalu dijual kembali," ujar Endrijo.
Dia mencontohkan, untuk bungkus kecil isi tiga buah brem dijual Rp 1.500.
"Kan untungnya sudah banyak,” ujar dia.
Sementara itu, namanya industri rumahan atau UMKM, seluruh anggota keluarga di tiap kepala keluarga (KK) dilibatkan dalam proses produksi brem.
Tak mengherankan jika anak-anak di Dusun Tenggar Lor juga jago meracik brem. Karena mereka sudah diajarkan cara membuatnya sejak dini.
“Keahlian membuat brem itu turun-temurun ya. Tahun lalu kecamatan bersama dinas terkait ikut memberikan pembinaan kepada para perajin brem.
Tujuan pembinaan itu agar perajin bisa memproduksi brem lebih berkualitas dan higienis.
"Jika kemasannya baru dan higienis, maka konsumen makin kesengsem,” beber Endrijo. (al/fer/ria)
Editor : Syahaamah Fikria