RADARSOLO.COM - Sejatinya, brem merupakan camilan khas Kota Madiun, Jawa Timur. Perbedaan antara brem Madiun dengan bren dari Nguntoronadi, Wonogiri cukup mencolok.
Bisa dilihat dari bentuk, warna, sekaligus rasanya.
Brem Madiun bentuknya kotak dan warnanya cenderung kekuningan.
Sedangkan brem Nguntoronadi bentuknya bulat, dengan warna putih bersinar.
Di Dusun Tengger Lor, Desa Gebang, Kecamatan Nguntoronadi, tercatat ada 18 industri rumahan atau UMKM perajin brem.
Tak mengherankan, Dusun Tengger Lor kini menjelma menjadi sentra brem Nguntoronadi.
“Brem sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Tapi setahu saya, perajin brem di sini mendapat pembinaan dari pemerintah mulai 1981. Melalui pemberian izin usaha dan pembentukan kelompok yang dinamai Mekarsari,” ungkap perajin brem asal Dusun Tengger Lor Singgih Haryanto.
Ya, nama Mekarsari seakan menjadi ciri khas brem asal Dusun Tengger Lor.
Mayoritas perajin memberi embel-embel Mekarsari pada brand masing-masing.
Singgih contohnya, dia menamai produknya dengan Brem Mekarsari 57.
“Bentuk brem Nguntoronadi ciri khasnya bulat dan warnanya putih. Seperti bakpia dari Jogja. Kalau brem Madiun kan kotak,” ujar Singgih.
Terkait pemasaran, Singgih mengaku memiliki cabang sendiri atau istilahnya pengepul.
Ada pengepul dari Klaten, Solo, Wonosobo, hingga Semarang.
Sekali kirim bisa 270 kilogram (kg) brem per pengepul.
“Ada juga orang-orang yang membeli brem langsung ke rumah. Biasanya mereka beli buat oleh-oleh. Belinya kiloan," beber dia.
Soal harga, Singgih mengaku, bervariasi antara Rp 50 ribu-Rp 55 ribu.
Ditanya kendala yang dihadapi, mayoritas perajin brem kompak menjawab bahan baku.
Karena harga beras ketan melambung sejak akhir 2023 lalu.
Sebelumnya harga beras ketan hanya Rp 13 ribu per kg.
Namun, sekarang harganya tembus Rp 21 ribu per kg untuk kualitas paling bagus.
"Jadi saat ini kami bertahan saja. Itu belum bahan baku raginya,” kata Singgih.
Per hari, para perajin mampu memproduksi 100 kg atau 1 kuintal. Sebelumnya saat harga bahan baku lebih murah, bisa memproduksi hingga dua kali lipat.
“Khusus Ramadhan atau menjelang Idul Fitri, pesanan memang meledak,” ujarnya. (al/fer/ria)
Editor : Syahaamah Fikria