RADARSOLO.COM - Banyak pedagang bakso sukses hingga menjadi juragan berasal dari Girimarto. Salah satunya adalah Maryanto.
Bahkan, dia kini dipercaya menjadi pentolan di Paguyuban Mi Ayam dan Bakso (Papmiso) Indonesia.
Ada misi yang dilakukan melalui wadah ini.
Minat warga Girimarto yang memilih merantau ke kota-kota besar dan berjualan bakso sudah terjadi sejak lama.
Tak bisa dipastikan kapan eksodus penjual bakso dari Wonogiri mulai berjalan.
Namun yang bisa dipastikan, ada hal yang mendorong warga untuk berjualan bakso di luar kota.
Salah satunya adalah terinspirasi kisah kesuksesan pendahulu mereka di tanah rantau karena berjualan bakso.
Maryanto mencontohkan dirinya sendiri. Di mana dia ingin mengubah nasib dengan berjualan bakso.
Faktor ekonomi membuat dia memilih berdagang bakso sampai dengan saat ini di Bekasi.
"Mungkin karena mbah-mbah dulu yang merantau berdagang bakso dan berhasil. Di kampung halaman bisa beli wedhus (kambing), sapi, sampai sawah," kata Maryanto.
Hal itu mendorong semangat generasi-generasi selanjutnya.
Kesuksesan generasi terdahulu, memotivasi mereka untuk berjualan bakso di perantuan.
Dulunya, ada pedagang bakso di kota besar dengan cara berkeliling dengan dipikul.
Lalu berkembang dengan membuat warung bakso.
Maryanto mengatakan, tak ada rahasia bagaimana pedagang bakso asal Wonogiri banyak yang sukses di perantauan.
Menurut dia, salah satu kunci kesuksesan para pedagang bakso dari Kota Sukses adalah konsisten yang dipegang teguh.
"Konsisten saat membuka usaha itu harus sepenuh hati. Saat merintis usaha jangan disamakan seperti bekerja di perusahaan. Misalnya harus konsisten, pagi harus sudah belanja. Kalau usaha bakso waktu nggak dihitung, yang penting sehat," papar dia.
Maryanto juga membangun rumah produksi bersama bagi pedagang bakso di Kota Bekasi.
Jadi, tak ada rahasia antara dia dan pedagang bakso lainnya.
Bahan bakunya sama dan ada suplier bagi para pedagang bakso yang diwadahi dalam koperasi.
Jika bahan bakunya sama, apakah yang membedakan kuah baksonya?
"Bahan kuah kan relatif sama. Yang membedakan garis tangan (nasib). Kebutuhan teman-teman, dari sayur daging dan tetek-bengek lain dari koperasi," papar dia.
Dalam kesempatan wawancara beberapa waktu lalu, Maryanto mengatakan, bakso Wonogiri terkenal dengan rasa daging sapinya yang kuat.
Usai digigit, serat daging sapi di bakso Wonogiri terlihat.
"Aroma daging sapinya juga terasa. Biasanya pakai daging sapi dengan kualitas super," kata dia.
Tak terhitung jumlah pedagang bakso dari Wonogiri yang merantau ke daerah lain.
Banyak di antara mereka yang sukses besar.
Mereka pun diharapkan untuk taat regulasi. Dengan begitu, usaha bakso mereka tetap akan berjalan mulus.
Maryanto mengatakan, para pedagang bakso harus paham dengan regulasi. Aturan yang ada pasti akan diterapkan dan hukumnya mengikat.
Papmiso mendorong agar pelaku usaha bakso mengikuti regulasi.
"Kan harus ada NIB (nomor induk berusaha), sertifikasi halal, pajak dan lain-lain. Itu juga agar ke depan punya daya saing," kata dia.
Menurut Maryanto, ukuran keberhasilan pedagang bakso tak hanya soal materi. Namun juga harus sukses mengikuti aturan dan regulasi yang ada.
Dengan begitu, usaha bakso bisa safety alias tetap berjalan dengan aman.
"Dengan begitu bisa terus maju. Bagaimana UMKM mau naik kelas kalau tidak mengikuti regulasi yang diatur oleh pemerintah," beber dia.
Ukuran kesuksesan pedagang bakso, menurut dia, tak melulu soal materi yang didapat.
Pola pikir atau mindset pedagang bakso juga harus dikembangkan.
Itu agar pedagang bakso bisa mengembangkan usahanya.
"Jangan cuma materi tapi saat ada aturan yang berubah dia kehilangan pekerjaan. Karena itu pentingnya mengikuti regulasi," tandas dia. (al/bun/ria)
Editor : Syahaamah Fikria