RADARSOLO.COM - Waduk Krisak atau sering disebut Waduk Tandon, terletak di Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.
Waduk ini dibangun sejak zaman penjajahan Jepang. Jelang pembukaan waduk usai dibangun puluhan tahun silam, muncul sesosok wanita berpakaian serbaputih. Diiringi ratribuan ekor ikan pari.
Banyak cerita yang berkembang di masyarakat sekitar Waduk Tandon. Salah satunya kisah kemunculan sosok Nyi Gadung Mlati.
Dia adalah sosok wanita yang dipercaya warga sekitar sebagai penunggu Waduk Tandon.
“Wujudnya wanita cantik. Biasanya muncul dengan pakaian serbaputih dan memakai bunga melati. Sekarang Nyi Gadung Mlati disimbolkan sebagai danyang (penunggu) Waduk Tandon,” kata tokoh masyarakat Desa Pare, Ngatno, 77, kemarin (4/5/2024).
Ngatno menambahkan, ada kisah mistik yang mengiringi pembukaan Waduk Tandon. Saat itu, ada warga yang melihat kemunculan sosok Nyi Gadung Mlati.
“Ceritanya, Nyi Gadung Mlati saat itu diiring ribuan ikan pari. Berjalan dari waduk ke Danyangan, lokasi keberadaan Nyi Gadung Mlati,” imbuhnya.
Kemunculan ribuan ekor ikan pari ini, lanjut Ngatno, bukan ikan sembarangan. Warga percaya, itu merupakan simbol keberkahan. Di mana ikan tersebut sebagai penunjuk keberadaan Nyi Gadung Mlati.
“Karena ada kemunculan ikan pari, jadi banyak warga yang pingsan saat itu. Seorang di antaranya Mbah Marto Putri. Dulu dia pesinden. Setelah dibantu Mha Atmo Udet yang dulu tukang kendang, akhirnya Mbah Marto tersadar,” beber Ngatno.
Meski kini zaman sudah modern, warga sekitar masih memeprcayai keberadan Nyi Gadung Mlati sebagai penunggu Waduk Tandon.
Tak jarang, ada warga sekitar yang memohon kepada Nyi Ageng Mlati untuk diangkat penyakitnya.
“Semisal ada anak atau anggota keluarga yang sakit, minta disembuhkan di Waduk Tandon. Karena warga meyakini Nyi Gadung Mlati masih di sana,” beber Ngatno.
Upaya ritual yang dilakukan warga tersebut, bisa dibilang menyalahi aturan agama. Namun, Ngatno tidak punya kehendak untuk melarang. Karena itu sudah menjadi kepercayaan warga sekitar.
“Semisal saya larang, lalu anak atau cucunya yang sakit meninggal, bisa jadi saya yang dituduh menghalangi. Melarang warga ke Danyangan untuk meminta kesembuhan. Ya tetap saya izinkan warga ke Danyangan, asalkan juga berdoa meminta kesembuhan kepada Allah SWT,” papar Ngatno. (al/fer)
Editor : Damianus Bram