RADARSOLO.COM-Komisi IV DPRD Wonogiri merespons soal maraknya kasus demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi di Kabupaten Wonogiri.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Wonogiri Supriyanto mengatakan, dampak dari La Nina belum diantisipasi secara optimal oleh dinas terkait.
Fenomena iklim ini dinilai punya peran dalam meningkatnya kasus DBD.
"Saat sudah ada indikasi akan terjadinya La Nina harusnya sudah melakukan persiapan. Baik yang bergerak di kebencanaan, kesehatan dan lainnya," ujarnya, Kamis (4/7/2024).
Pria yang akrab disapa Supri itu menuturkan, ke depan harus ada persiapan yang lebih jika ada indikasi terhadap fenomena iklim. Dengan begitu, dampak-dampak perubahan alam bisa diminimalkan.
"Langkah pencegahan seperti PSN (pemberantasan sarang nyamuk) di tengah masyarakat saat ini perlu dioptimalkan lagi untuk menekan angka kejadian DBD," katanya.
Menurut Supri, langkah terbaik adalah jika sebelum kasus meninggi, langkah pencegahan dan persiapan dilakukan.
Saat sudah banyak kasus, semua pihak harus bergerak optimal meskipun hasilnya tak sebagus jika sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari.
"Tentu ke depannya, PSN harus makin digencarkan di tengah masyarakat. Dinas terkait juga harus beri support penuh," beber Supri.
Dia juga meminta masyarakat tak menyepelekan nyamuk aedes aegepty. Sebab, DBD juga bisa merenggut nyawa.
"Pencegahan yang bisa dilakukan salah satunya PSN. Kita gencarkan lagi PSN untukeminimalkan terjadinya kasus-kasus baru ke deoannya," pungkas Supri.
Sebelumnya diberitakan sepanjang semester pertama 2024, Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri mendapatkan laporan demam dengan dugaan infeksi dengue sebanyak 1.508 kasus.
Baca Juga: Ini Dia 4 Wisata di Kawasan Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar yang Layak Dikunjungi
Setelah diverifikasi, rinciannya ada 710 kasus demam dengue (DD), 258 kasus DBD, dan 6 kasus dengue shock syndrome (DSS).
Sementara itu, ada 9 kasus kematian akibat DBD dan DSS. Sebab, 534 lainnya tak masuk klasifikasi DD, DBD ataupun DSS.
Tercatat insiden rates (IR) 24,67 per 100.000 penduduk. IR itu di bawah target rencana strategis IR provinsi yakni 25 per 100.000 penduduk.
Sementara target nasional kurang dari 10 per 100 ribu penduduk. Sementara case fatality rate (CFR) DBD 3,03 persen. Target provinsi dan nasional kurang dari 2. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono