RADARSOLO.COM–Puluhan ribu jiwa di Kabupaten Wonogiri dikhawatirkan bakal terdampak kemarau.
Mengingat dampaknya yang cukup besar, langkah antisipasi Pemkab Wonogiri juga tak setengah-setengah.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri Trias Budiono mengatakan, pihaknya telah memetakan potensi bencana kekeringan dengan asumsi kemungkinan terburuk.
Dibareng upaya Pemkab Wonogiri mengantisipasi kekeringan secara permanen atau jangka panjang.
Yakni dengan memanfaatkan air dari sungai-sungai bawah tanah.
"Misalnya seperti sumber Waru dan Banyutowo untuk wilayah Kecamatan Paranggupito," ujar Trias baru-baru ini.
Atas tindakan itu, wilayah rawan terdampak kekeringan berangsur-angsur berkurang.
Meski demikian, pihaknya mengantisipasi kemarau panjang mengakibatkan sumber-sumber air mengering.
"Kalau terjadi kekurangan air, Pemkab sudah menyiapkan anggaran droping air bersih Rp 750 juta,” kata Trias.
“Itu bisa untuk menyediakan 3.105 tangki air bersih, volumenya sekira 5.000 liter per tangki," imbuhnya
Anggaran ratusan juta itu kemungkinan bisa digunakan mulai Agustus 2024.
Jika anggaran tidak cukup, Pemkab Wonogiri masih mempunyai biaya tidak terduga (BTT) senilai Rp 5,5 miliar.
Berdasarkan data BPBD Wonogiri, ada 44 desa di 14 kecamatan yang rawan terdampak kekeringan.
Adapun jumlah warga yang berpotensi terdampak kekeringan sebanyak 9.230 kepala keluarga atau 27.409 jiwa. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono