Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Di Balik Prestasi Gregoria Warga Wonogiri pada Olimpiade Paris 2024: Sang Ibu Takut Lihat Anaknya Bertanding

Iwan Adi Luhung • Selasa, 6 Agustus 2024 | 02:08 WIB
Pasangan Gregorius Mariyanto dan Fransisca Romana Dwi Astuti orang tua Gregoria Mariska Tunjung sangat bangga dengan prestasi anaknya di Olimpiade Paris 2024.
Pasangan Gregorius Mariyanto dan Fransisca Romana Dwi Astuti orang tua Gregoria Mariska Tunjung sangat bangga dengan prestasi anaknya di Olimpiade Paris 2024.

RADARSOLO.COM-Gregoria Mariska Tunjung menyabet medali perunggu pada Olimpiade Paris 2024.

Medali pertama bagi Indonesia pada ajang olahraga tingkat dunia tersebut.

Pasca mendapatkan medali perunggu, Gregoria Mariska Tunjung sempat berkomunikasi dengan kedua orang tuanya.

Apa yang mereka bicarakan? Berikut liputan wartawaran radarsolo.com.

Gregorius Mariyanto fokus memandang layar tablet miliknya.

Melihat putri semata wayangnya bertanding melawan An Se-young, Minggu (4/8/2024).

Sesekali tangannya menuliskan catatan di buku miliknya.

Ya, saat itu Gregoria Mariska Tunjung sedang bertarung mati-matian melawan An Se-young di semifinal Olimpiade Paris 2024 di Porte de La Chapelle Arena Paris.

Sempat menang 21-11 di set pertama, Gregoria harus mengakui keunggulan lawannya setelah dikalahkan di dua set berikutnya.

Atlet bulu tangkis tunggal putri asal Wonogiri itu bawa pulang medali perunggu. Itu karena dalam perebutan juara ketiga, Carolina Marin atlet asal Spanyol tidak dapat bermain akibat cedera.

Medali perunggu yang diraih Gregoria tersebut menjadi sumbangan pertama bagi tim Indonesia di Olimpiade Paris 2024.

Saat Mariyanto fokus menatap layar tablet, Fransisca Romana Dwi Astuti, istrinya, memilih memisahkan diri.

Baca Juga: Lahan Pertanian Warga di Jalan Tembus Tawangmangu Karanganyar Longsor, Begini Kondisinya

Berada di ruang lain di rumah mereka di Dusun Karangtalun RT 02 RW 03 Desa Pokohkidul, Kecamatan Wonogiri Kota.

Wanita yang akrab disapa Sisca itu tak mau menonton anaknya bertanding.

Dia memilih untuk memanjatkan doa kepada Tuhan untuk kelancaran pertandingan Ria, panggilannya kepada Gregoria.

"Saya nggak lihat. Nggak berani nonton. Saya berdoa saja. Deg-degan kalau Ria jatuh," ujar Sisca ditemui di kediamannya, Senin (5/8/2024).

Orang tua Gregoria memang tak pernah menonton langsung saat anaknya bertanding.

Itu agar Gregoria tetap fokus dalam pertandingan.

"Nggak nonton. Dulu ada kejuaraan di Jogja nggak ikut nonton langsung. Kami di hotel," kata Sisca.

Itu sudah menjadi kebiasaan Gregoria sejak dahulu. Dan hal tersebut telah disepakati oleh Gregoria dan orang tuanya.

Mariyanto dan Sisca sudah berkomunikasi dengan Gregoria usai dipastikan mendapatkan medali perunggu olimpiade.

Banyak hal yang sudah dibicarakan. Salah satunya adalah Gregoria belum bisa pulang ke Wonogiri pasca bertanding di Prancis.

"Tanggal 9 Agustus nanti mau ke Cibubur, ke rumahnya. Tanggal 11 kan ulang tahun ke-25, kami yang ke sana. Habis itu kan gendhuk (sapaan untuk anak perempuan Jawa) ke Korea. Jadi tidak bisa pulang ke sini," papar Sisca.

Gregoria menitipkan pesan agar ayah dan ibunya menyiapkan syukuran untuk dibagikan kepada warga sekitar rumah.

Sebanyak 150 ekor ayam blondo telah dipesan oleh Sisca.

Baca Juga: Pelantikan Anggota DPRD Sukoharjo Periode 2024-2029 Rencana Digelar Ditanggal Ini

"Syukuran. Tetangga kan juga ikut mendoakan. Jadi Ria berterima kasih. Wujud syukurnya Ria," kata dia.

Baik Sisca dan Mariyanto merasa bangga. Putri mereka bisa mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Mariyanto menuturkan, anaknya rutin meminta doa restu setiap pagi ketika ada jadwal bertanding.

Dan, biasanya Mariyanto memberikan pesan-pesan khusus.

"Setelah itu kalah-menang laporan. Kalau Ria merasa kalah karena mainnya jelek nangis. Tapi kemarin saat lawan An Se-young, saya kira bagus. Dia juga tidak menangis," ungkap Mariyanto.

Yang diobrolkan juga lebih santai. Menurut keduanya, Ria merasa sedih karena tak bisa bertanding terlebih dahulu melawan Carolina Marin. Sebab, lawannya itu cedera.

Orang tua Gregoria sangat bangga. Sebab, tak sembarang orang bisa bertanding di ajang olimpiade.

Apalagi bisa sampai mendapatkan medali.

"Bangga, untuk seorang atlet prestasi tertinggi itu di Olimpiade. Tidak semua orang bisa mencapai ke sana," pungkas Maryanto. (al/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#sang ibu #Gregoria Mariska #Olimpiade paris #orang tua #bulu tangkis