Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tiga Warga di Slogohimo Wonogiri Tolak Bantuan Relokasi dari Wilayah Rawan Longsor, Ini Alasannya

Iwan Adi Luhung • Kamis, 3 Oktober 2024 | 21:54 WIB
Tim dari Dispera KPP Wonogiri berkunjung ke rumah calon sasaran bantuan relokasi belum lama ini.
Tim dari Dispera KPP Wonogiri berkunjung ke rumah calon sasaran bantuan relokasi belum lama ini.

RADARSOLO.COM-Tiga warga di Desa Tunggur, Kecamatan Slogohimo, menolak bantuan untuk dipindahkan dari wilayah rawan longsor.

Kepala Desa (Kades) Tunggur Sriyanto mengatakan, tahun lalu, terjadi longsor di wilayahnya.

Sejumlah warga terdampak bencana itu. Kemudian diusulkan agar warga yang terdampak direlokasi.

Hasilnya, empat KK di Dusun/Desa Tunggur dinyatakan mendapatkan bantuan untuk relokasi ke tempat yang lebih aman.

Awalnya, empat warga itu siap menerima bantuan.

"Yang tiga awalnya sempat menerima, tapi setelah sosialisasi, ya itu, yang tiga tidak menerima (menolak)," jelas Sriyanto, Kamis (3/10/2024).

Alasan tiga warga itu menolak direlokasi karena tak punya biaya untuk swadaya.

Diketahui, penerima bantuan rekolasi bakal menerima bantuan senilai Rp 40 juta.
Bantuan itu diantaranya berwujud rumah sistem panel instan (Ruspin).

Tapi mereka juga perlu swadaya. Salah satunya untuk membuat fondasi rumah.

"Akhirnya satu yang mau. Relokasinya juga nggak begitu jauh (dari titik rumah saat ini)," kata Kades.

Karena enggan direlokasi, tiga warga yang menghuni rumah di wilayah rawan longsor harus ekstrawaspada.

Ketika turun hujan lebat, mereka diminta mengungsi terlebih dahulu.

Baca Juga: Kronologi Pedagang Pasar Gede Gugat Jabatan Walikota Solo

"Kami minta mengungsi di tempat saudaranya yang dekat dan aman," terang dia.

Terpisah, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Dispera KPP) Wonogiri Purwadi mengatakan, bantuan relokasi merupakan program Pemprov Jawa Tengah lewat Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah.

"Program itu untuk membantu rumah baru bagi korban bencana. Namanya program pembangunan baru relokasi korban bencana," ujar Purwadi.

Calon penerima bantuan tersebar di dua desa di Kecamatan Slogohimo.

Empat orang tinggal di Desa Tunggur, dan satu orang di Desa Padarangin.

Ada cukup banyak persyaratan bagi calon penerima bantuan relokasi.

Di antaranya adalah harus memiliki tanah sendiri di lokasi lain untuk menjadi rumah baru.

Selain itu, juga ada swadaya dalam pembangunan rumah baru.

"Awalnya itu ada beberapa calon penerima bantuan. Namun ada yang ternyata punya lahan, tapi sawah dilindungi, tidak diperbolehkan (dibangun rumah)," ungkap Purwadi.

Hingga akhirnya, hanya dua penerima bantuan relokasi itu. Satu di Desa Tunggur dan satu di Desa Padarangin.

Menurut Purwadi, sudah dilakukan upaya memberi pemahaman kepada warga sebelum direlokasi ke tempat yang baru.

Namun, pihaknya juga tak bisa memaksa mereka.

Dinas menilai, masih ada potensi bencana longsor di lokasi rumah warga setempat.

Baca Juga: Pendaftar Anggota KPPS di Karanganom Klaten Membludak, Dilakukan Seleksi Tes Tertulis

Sebab, kemiringan tanah cukup curam.

Sementara itu, sudah ada kajian bencana oleh BPBD Wonogiri di lokasi relokasi yang dinyatakan lebih aman dari potensi bencana.

"Itu nanti (yang relokasi) digarap tahun ini. Anggaran tahun ini, harus selesai di akhir tahun. Anggarannya Rp 40 juta berupa material Ruspin, panel. Itu cepat bangunnya," terang Purwadi. (al/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#rumah #wonogiri #slogohimo #relokasi #rawan longsor