RADARSOLO.COM-Sejumlah tempat di wilayah Kabupaten Wonogiri memiliki kepercayaan tertentu.
Salah satunya di kawasan Gunung Pegat yang terletak di Kecamatan Nguntoronadi.
Pengantin baru pantang melewati Gunung Pegat jika tak ingin rumah tangganya ambyar.
Kepercayaan itu sudah ada sejak zaman nenek moyang.
Wibowo Sajarwo, 41, warga Desa Bumiharjo, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri adalah salah satu warga yang meyakini mitos itu.
Saat baru menikah, dia dan istrinya tak berani melewati area Gunung Pegat.
"Pernah dapat cerita dari mbah saya dulu ada pasangan suami istri yang tinggal di Gunung Pegat," kata dia Kamis (10/10/2024).
Dari cerita itu, disebutkan bahwa keduanya hidup saat zaman larang pangan.
Suatu ketika sang suami sedang bekerja namun tak kunjung pulang.
Sang istri sudah menyiapkan makanan di rumah. Namun karena sang suami tak kunjung pulang, makanan itu dimakan oleh sang istri.
"Akhirnya dari masalah makanan itu cekcok dan cerai. Yang laki-laki menempati Gunung Pegat sisi timur, yang perempuan menempati Gunung Pegat sisi barat," beber pria yang akrab disapa Bowo tersebut.
Konon, masih ada kisah lain yang melatar belakangi mitos pengantin baru pantang melintas Gunung Pegat.
Baca Juga: Ricardo Lima Pulang ke Brasil untuk Operasi, Pemain Persis Solo Beri Kenang-Kenangan
Yang jelas, kata Bowo, warga sekitar Gunung Pegat masih mempercayai mitos bahwa pengantin baru tak boleh melintasi area Gunung Pegat.
Jika melanggar, pasangan bica cerai hidup atau cerai mati.
Ada juga yang mendapatkan apes karena menerobos pantangan tersebut.
Bowo menceritakan, pernah ada pasangan baru dari desa lain. Sudah diperingatkan bahwa jangan melewati Gunung Pegat.
"Entah ngepasi atau bagaimana, terjadi kecelakaan. Rombongan mau mengantar manten. Tahun 90-an itu. Yang meninggal satu, orang tua pengantin. Mobilnya terguling. Wilayah lain ada juga yang cerai hidup,” urainya.
Kades Bumiharjo Sugiyanto membenarkan adanya mitos itu.
Mitos tersebut sudah ada sejak lama. Saat masih pengantin baru, dia juga tak berani melewati area Gunung Pegat.
"Menunggu 40 hari (usia pernikahan) baru boleh lewat. Kalau nekat melintas, bisa pegat (cerai) hidup atau mati. Makanya nggak ada yang berani lewat situ," ucapnya.
"Saya dulu (awal menikah) juga tidak berani lewat. Kalau mau ke Wonogiri, nggak lewat situ. Cari jalan lain," kata dia. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono