Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Viral Pernikahan Lansia Usia 64 Tahun dan 89 Tahun di Wonogiri: Kenal di Sawah, Malam Pertama Cuma Jagongan

Iwan Adi Luhung • Minggu, 8 Desember 2024 | 22:51 WIB
Pernikahan Ngatimin dan Satinem di KUA Kecamatan Giritontro, Wonogiri, Selasa (3/12/2024).
Pernikahan Ngatimin dan Satinem di KUA Kecamatan Giritontro, Wonogiri, Selasa (3/12/2024).

RADARSOLO.COM-Pernikahan Ngatimin dan Satinem viral di media sosial Wonogiri.

Mengingat usia mereka yang sudah sepuh dan terpaut cukup jauh. 

Seperti apa kisah di baliknya? Berikut liputan wartawan radarsolo.com Iwan Adi Luhung.

Mungkin benar kata orang bahwa cinta itu buta. Tak peduli usia, kasta, dan lainnya. Terbukti dalam kisah cinta yang dijalin Ngatimin dan Satinem.

Ngatimin berusia 64 tahun, sedangkan Satinem 89 tahun.

Beda usia 25 tahun tak menyurutkan niat Ngatimin untuk mempersunting Satinem.

Ngatimin adalah warga Desa Jatirejo Kecamatan Eromoko, Wonogiri.

Sementara Satinem merupakan warga Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro, Wonogiri.

Keduanya mengucap janji bersatu dalam pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Giritontro, Selasa (3/12/2024).

Perjalanan cinta keduanya cukup panjang. Perkenalan dan pendekatan sudah dilakukan setidaknya dua tahun belakangan.

Awalnya, Ngatimin bekerja di sawah yang berlokasi di sisi timur rumah Satinem.

Dia kerap melihat Satinem mencari rumput pakan ternak.

Baca Juga: Hasil Lengkap Liga 4 Seri 2 Jawa Barat, 7 Desember: Pakuan City Tersandung, Depok United Berjaya, dan Persika Harus Lebih Bersabar

"Setiap hari cari pakan kambing. (Rumput) pakan kambing digendongi," ujar Ngatimin dengan bahasa Jawa halusnya saat dijumpai sejumlah awak media, Sabtu (7/12/2024).

Keduanya makin dekat. Hingga akhirnya pasangan itu memutuskan untuk menikah. Ngatimin juga mengaku tak ada rencana apapun usai menikah.

Keduanya saling menemani. Saling menjaga satu sama lain di usia yang sudah tak muda lagi.

"Kalau malam pertama setelah menikah cuma jagongan (ngobrol)," beber dia.

Kini, Satinem tak lagi kesepian. Sebelumnya, dia merasa kesepian di usia lanjutnya. Hidup sendiri di rumahnya.

Sejak dua tahun lalu, muncul Ngatimin di kehidupannya.

Dia kerap dibantu oleh Ngatimin untuk mencari pakan ternak.

"Sebelumnya kalau sakit juga tidak ada yang mengurus. Karena itu juga saya menikah," ungkap Satinem.

Satinem bercerita, dia juga menggarap sawah milik orang lain.

Sehingga sejak dua tahun terakhir sering bertemu dengan Ngatimin.

Saat ada rencana menikah, dia sempat bingung dengan biaya pernikahannya.

Akhirnya Satinem meminjam uang tetangga untuk mencukupi kebutuhan pernikahan.

Usai menikah, Satinem merasa lebih tenang karena Ngatimin, suaminya. Mereka hidup berdua di rumah Satinem.

Baca Juga: Hama Tikus Merajalela di Sragen, Gropyokan hingga Jebakan Listrik Tak Mempan: Ini Akibatnya bagi Petani

"Rasanya sekarang ini sudah ada teman. Pikiran juga sudah lebih tenang," beber dia.

Sito, ketua RW setempat mengatakan, Satinem adalah warga asli Di Dusun Sawit Lor Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro.

Satinem telah menjanda sejak 45 tahun lalu.

Satinem tinggal sebatang kara. Tidak mempunyai anak, saudara, dan orang tua.

"Dulu sudah menikah, suaminya meninggal dunia. Punya anak tiga, tapi saat kecil meninggal dunia," terang Sito.

Sedangkan Ngatimin sudah menduda kurang lebih 25 tahun. Dia pernah menikah dua kali.

Prosesi pernihakan Satinem-Ngatimin tak hanya dilakukan di kantor KUA, melainkan juga menggelar hajatan di rumah Satinem.

"Pas Senin (2/12/2024) sudah menerima tamu undangan. Rumah juga dikasih tenda," ujarnya.

Tamu yang hadir dalam acara pernikahan Satinem-Ngatimin sekitar 200 orang.

Sementara itu saat resepsi dari pihak laki-laki membawa 100 orang.

Sito menuturkan, yang berinisiatif menggelar pesta pernihakan adalah Satinem.

"Selama ini sering membantu tetangga yang punya hajat, sekarang gantian. Acaranya masih pakai adat jawa. Cari hari pernikahan dan jam grubyukan (besanan) juga," beber Sito.

Sebelum melaksanakan ijab kabul, kedua mempelai juga melakukan prosesi tunangan dan saling tukar cincin emas masing-masing dua gram.

Adapun mahar pernikahannya berupa uang senilai Rp 500 ribu. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#ngatimin #viral #pernikahan #satinem #wonogiri #lansia