RADARSOLO.COM-Aksi Andrianto, 45, mencuri perhatian. Dia memenuhi nazar berjalan kaki lintas provinsi usai dimutasi.
Berikut liputan wartawan radarsolo.com Iwan Adi Luhung.
Pagi itu Andrianto berangkat ke SMPN 2 Plaosan Magetan, Jawa Timur. Namun hari itu berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Kamis (31/10/2024) lalu adalah hari terakhirnya bekerja di sekolah itu sebelum bertugas di SMPN 1 Tirtomoyo, Wonogiri.
Pagi itu dia menyempatkan diri berkeliling ke lingkungan sekolah.
Berpamitan kepada orang-orang yang belasan tahun menemaninya di sekolah tersebut sejak 2011.
Termasuk berpamitan dengan pemilik kantin sekolah yang sebelumnya menjadi jujukan saat perutnya keroncongan.
Perpisahan juga digelar, melepas kepergian guru Bahasa Jawa itu ke kampung halaman.
Ya, Andrianto dimutasi ke SMP N 1 Tirtomoyo, Wonogiri. Sekolah yang jauh lebih dekat dengan kediamannya di kecamatan setempat.
Suasana haru nampak dalam perpisahan itu. Di penghujung acara, dikalungkan sebuah tulisan kepadanya.
Tulisan itu berbunyi 'Sukses Mutasi Jalan Kaki Lintas Provinsi. 31 Oktober 2024'.
Dilepas oleh para guru dan murid, Andrianto melangkahkan kaki keluar dari gerbang sekolah. Lambaian tangan melepas kepergian bapak dua anak itu.
Baca Juga: Aura Mistis Tempuran Kali Mondokan dan Kali Sawur Sragen, Lahan Berburu Tuyul dan Pesugihan
"Memang sempat bernazar di depan teman-teman guru. Semisal saya dimutasi bakal jalan kaki sampai perbatasan. Dan sudah terlaksana," ujar Andrianto lewat sambungan telepon, Minggu (22/12/2024).
Dalam aksinya itu, dia melewati delapan desa. Mulai dari Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur hingga Desa Golo, Kecamatan Puhpelem, Wonogiri Jawa Tengah.
Andrianto memulai perjalanannya sekira pukul 08.00. Pada pukul 13.00 dia sampai di Desa Golo, tanda dia telah berjalan kaki lintas provinsi.
"Waktu itu ya capek. Berkali-kali istirahat di pinggir jalan. Medannya kan juga naik turun gunung," kata dia.
Dia mengaku hanya ingin mengabadikan momentum itu dan mengunggahnya ke akun TikTok miliknya @andriantosayid.
Tak menyangka penontonnya bakal mencapai 850 ribu dan belakangan ini viral.
"Yang posting ulang ternyata banyak. Ada yang suka, namun ada juga yang mencibir," kelakar Andrianto.
Tak banyak yang tahu cerita di balik kisah pria tersebut.
Usai lulus kuliah di UNS pada 2006 dia sempat menjadi kuli di Jakarta.
Empat tahun dilakoninya menjadi petugas maintenance mesin pengelasan hingga pulang kampung dan menikah pada 2010.
"2011 itu coba daftar CPNS. Alhamdulillah diterima di Magetan. Waktu itu tidak semua daerah ada lowongan guru Bahasa Jawa," terang dia.
Menurut dia, lolosnya sebagai CPNS adalah rezeki yang dibawa oleh sang anak pertama.
Tugas sebagai guru pun dilakoni. Menurut dia, jarak rumahnya menuju SMPN 2 Plaosan lebih dari 60 kilometer.
"Setiap hari pulang pergi. Berangkat pagi sekitar jam 5, perjalanan dua jam. Pulang pergi ya empat jam," beber dia.
Perjalanan panjang itu dilakoninya selama 13 tahun. Andrianto juga lolos sertifikasi hampir bersamaan dengan lahirnya anak kedua.
Menurutnya sertifikasi itu rezeki dari anak kedua.
Pada 2018, dia mengajukan mutasi. Tak beruntung, permohonannya ditolak.
Beberapa kali dia mengajukan mutasi dan berkali-kali dia tak beruntung.
"Saat pengajuan mutasi itu saya bernazar, jalan kaki lintas provinsi kalau sukses mutasi. Alasan mengajukan mutasi ya ingin lebih dekat dengan keluarga," terang Andrianto.
Permohonan mutasi akhirnya disetujui. Per 1 November 2024, Andrianto resmi berpindah tugas ke SMPN 1 Tirtomoyo, Wonogiri, kampung halamannya.
"Mungkin rezeki dari anak ketiga juga. Ini istri sedang hamil anak ketiga," beber dia.
Kini Andrianto tak perlu menghabiskan waktu lama untuk berangkat dan pulang bekerja.
Tempat kerjanya kini dekat dengan keluarganya, sesuai dengan harapan.
Meski demikian, dia punya banyak pengalaman saat harus mondar-mandir ke Magetan.
"Kalau musim penghujan, pasti ada saja kejadian. Misalnya pohon tumbang atau tanah longsor menutup jalan," ungkapnya.
"Jadinya saya telat, pernah juga izin karena kalau lewat jalan lain waktu tempuhnya lama, anak-anak tinggal satu jam saja sekolahnya," lanjut Andrianto.
Andrianto mengaku bersyukur telah dimutasi. Selain itu, dia juga menegaskan bahwa mutasi yang diperjuangkannya itu tanpa adanya pungutan liar.
"Nol, tidak keluar uang sepeserpun buat mutasi ini," pungkas Andrianto. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono