RADARSOLO.COM-Komisi II DPRD Wonogiri mengusulkan agar agar taman satwa di Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur (OW WGM) Wonogiri cukup memelihara gajah.
Adapun satwa lainnya dikembalikan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Ide itu muncul saat Komisi II menggelar rapat bersama Perusda Giri Aneka Usaha Wonogiri Senin (20/1/2025).
Diketahui OW WGM kini sudah di bawah naungan Perusda Giri Aneka Usaha Wonogiri
Muncul usulan itu karena biaya perawatan satwa terlalu tinggi.
Sementara, banyak satwa yang kondisinya memprihatinkan. Adapun satwa gajah dipertahankan karena menjadi ikon OW WGM.
Ketua Komisi II DPRD Wonogiri Supriyanto mengatakan pihaknya sudah berkunjung ke taman satwa OW WGM baru-baru ini.
Hasilnya, pihaknya tidak merasa nyaman ketika berkunjung ke taman satwa tersebut.
Padahal, taman satwa seharusnya memberikan fungsi edukasi dan kesan rekreasi bagi pengunjung.
"Kami dari Komisi II sudah melihat ke sana. Kesan yang kami dapat justru kasihan dengan kondisi binatangnya," ujar dia.
Dia mencontohkan, kandang buaya dan orang utan terlihat memprihatinkan.
Kandang orang utan bahkan dibangun dua lapis sangkar, sehingga terlihat tidak nyaman.
Selain itu, kandang babi hutan yang mengeluarkan aroma menyengat.
Menurut pria yang akrab disapa Supri itu, apabila para wisatawan merasa kasihan dan tidak nyaman, mereka tentu tidak tertarik datang lagi ke OW WGM.
Oleh karena itu, pihaknya melontarkan ide taman satwa tersebut hanya memelihara gajah sebagai ikon Wonogiri. Sedangkan satwa lainnya dikembalikan ke BKSDA.
Dengan demikian, obyek wisata itu bisa lebih fokus merawat gajah dan meminimalisir biaya pemeliharaan satwa.
"Ini baru wacana atau ide. Kita setuju Giri Aneka Usaha mengkaji agar WGM jadi obyek wisata yang menarik. Kalau orientasinya profit, biaya untuk kebun binatang itu terlalu besar," terang Supri.
Merespons hal tersebut, Direktur PT Giri Aneka Usaha Suharsono menuturkan, perawatan taman satwa menelan biaya sekitar 50 persen dari pengeluaran obyek wisata.
Anggaran perawatan satwa saat ini hanya berkisar Rp 180 juta per tahun, sehingga hasilnya memprihatinkan.
"Kalau fokus merawat gajah saja, saya sebenarnya sangat setuju karena biaya bisa diminimalisir," kata dia.
Suharsono menuturkan, izin lembaga konservasi taman satwa tersebut dipegang oleh Koperasi Bina Satwa. Izin itu berlaku hingga 2041.
Jika ingin memperbarui izin, biayanya sangat mahal, mencapai Rp 1,5 miliar.
Oleh sebab itu, pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu, apakah taman satwa bisa memelihara satu macam satwa saja, atau harus memelihara berbagai macam satwa.
"SOP-nya seperti itu. Tapi untuk membangun kandang juga harus mengurus izin lagi. Biayanya bisa sampai Rp 500 juta. Kita kaji dulu itu (soal taman satwa hanya memelihara gajah,red). Aturannya seperti apa," pungkas dia. (al/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono