Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kades Jatisari Jatisrono Buka Suara Usai Geger Drama Ketua RT dan RW Mundur: Beda Ketemu Saya di Jalan dengan Pakai Seragam

Iwan Adi Luhung • Rabu, 22 Januari 2025 | 03:20 WIB
Balai Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri.
Balai Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri.

RADARSOLO.COM - Kepala Desa (Kades) Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri Teguh Subroto buka suara atas geger drama ketua RT dan RW ramai-ramai mengundurkan diri, hingga dirinya dianggap mengingkari kesepakatan bersama.

Teguh mengatakan, keinginan mundur sejumlah ketua RT dan RW di wilayahnya berawal dari kecewa karena nominal dana insentif yang turun. Yakni dari Rp 500 ribu menjadi Rp 200 ribu di tahun 2025.

Turunnya nominal dana insentif RT/RW itu sesuai dengan kebijakan Pemkab Wonogiri.

"Jauh-jauh hari sudah kita jelaskan soal turunnya insentif dalam beberapa kesempatan. Lalu saat Musrenbangdes, kita jelaskan kalau itu kebijakan dari kabupaten," beber Teguh, Selasa (21/1/2025).

Diakui Teguh, sebelum Musrenbangdes, para ketua RT dan RW memang telah menggelar koordinasi secara internal terkait rencana mereka untuk mundur sebagai bentuk protes.

Hingga kemudian dibacakan pernyataan sikap dari perwakilan ketua RT dan RW saat Musrenbangdes yang dihadiri Camat Jatisrono pada Rabu (15/1/2025) lalu.

"Misalnya (mundur) sikap panjenengan semuanya (ketua RT dan RW), itu hak panjenengan. Saya sebagai kades menyerahkan itu kepada warga. Yang memilih kan warga," ucap Teguh.

Ditambahkan Teguh, pernyataan sikap untuk mundur itu sudah dibacakan saat pengukuhan ketua RT dan ketua RW pada Selasa (14/1/2025) lalu.

Teguh pun memberi lampu hijau kepada ketua RT dan RW untuk menyalurkan aspirasi mereka saat Musrenbangdes.

Disinggung soal drama atau rekayasa mundur yang dibuat bersama, Teguh menuturkan, dirinya beberapa kali memang bertemu ketua RT maupun ketua RW secara terpisah yang menanyakan soal insentif.

Dia pun memberi ruang mereka untuk menyampaikan unek-unek dan aspirasi di acara pengukuhan ketua RT dan RW.

"Kalau ketemu satu-satu ya monggo (pura-pura mundur), kan itu aspirasi. Masa saya menghalangi aspirasi," ucap dia.

"Tapi saat bertemu saya sebagai kades, saya menanggapi sebagai birokrasi. Saya kades, saya pakai seragam. Berbeda kalau tanya satu-satu. Kalau di balai desa saya sesuai aturan," imbuh Teguh.

Teguh mengaku sudah menggelar rapat dengan BPD soal permasalahan itu.

Para ketua RT dan RW juga telah diundang pada Selasa (21/1/2025). Ada beberapa ketua RT dan 4 ketua RW yang hadir hari ini.

Hasilnya, akan ada pertemuan lanjutan pada Rabu besok (22/1/2025).

Berbeda saat Pakai Seragam

Bagaimana dengan desakan ketua RT dan ketua RW agar kades meminta maaf karena dianggap mengingkari kesepakatan?

"Itu hal yang lain. Kalau saya sesuai aturan saya (sebagai kades) dianggap salah, ya tidak. Tapi kalau saya sebagai pribadi, seorang Teguh yang kadang salah, perkara minta maaf itu kan perkara mulia," papar dia.

"Kan beda to. Saat saya ngobrol perorangan di jalan berbeda dengan saat memakai seragam. Maksudnya kebijakan pribadi. Aku njajakne kan tidak pakai APBDes," imbuh dia.

Soal Teguh yang disebut memfasilitasi atau memberi arahan para ketua RT dan RW untuk menyalurkan aspirasi, kades itu pun tak membantah.

"Tapi daripada panjenengan (ketua RT dan RW) ketemu satu-satu di jalan.
Lebih baik bertemu di kantor. Saya menjawabnya sebagai kades, bukan pribadi yang ditanya di jalan atau rumah," ucap dia.

Tapi, bukankah jabatan kades dianggap sebagai jabatan melekat di manapun berada?

Hal itulah yang menurut Teguh, bisa menyebabkan salah persepsi.

"Kalau saya minta maaf sebagai pribadi nggak papa. Tapi kalau sebagai kades, birokrasi, kan menerapkan aturan," tandas kades. (al/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#kades #drama #jatisrono #insentif #desa jatisari #ketua rw #ketua rt #mundur