RADARSOLO.COM- Pemerintah Kecamatan Jatisrono dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) telah mengetahui adanya polemik yang terjadi di wilayah Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri.
Diketahui, permasalahan di Desa Jatisari berawal dari pengunduran diri seluruh ketua RT dan RW yang kemudian berujung pada kekecewaan para ketua RT dan RW kepada kepala Desa (Kades) Jatisari.
Mulanya ketua RT dan RW di wilayah setempat tak puas dengan insentif yang nominalnya turun.
Hal itu kemudian dikonsultasikan kepada kades dan disepakati bakal ada drama atau rekayasa terkait pengunduran 31 Ketua RT dan 4 Ketua RW di satu desa.
Namun, para ketua RT dan RW merasa dipermalukan saat Musrenbangdes yang menghadirkan Camat Jatisrono. Dimana para Ketua RT dan RW merasa perkataan kades berbalik 180 derajat.
Camat Jatisrono Yohanes Trisnadi Tulus mengatakan, usai Musrenbangdes di Desa Jatisari, Rabu (15/1/2025), dia diminta untuk tetap tinggal di tempat oleh Kades Jatisari.
Sebab, saat itu bakal ada pernyataan aspirasi yang akan disampaikan perwakilan Ketua RT dan RW.
Camat bersama tim Musrenbangdes akhirnya menunggu terlebih dahulu. Hingga akhirnya koordinator Ketua RT dan RW membacakan pernyataan sikap bahwa mereka kompak akan mengundurkan diri.
"Setelah dibacakan saya ya kaget," ujar Trisnadi, Rabu (22/1/2025).
Setelah itu, imbuh camat, kades memberikan keterangan terlebih dahulu. Dimana kades menyebut bahwa insentif bagi Ketua RT dan RW sudah sesuai dengan regulasi.
Camat mengaku juga sempat menyatakan bahwa besaran insentif itu telah sesuai regulasi.
"Saya menyampaikan normatif. Pendamping desa juga menyampaikan hal dengan substansi yang sama," beber dia.
Trisnadi juga mengakui bahwa suasana Musrenbangdes itu sempat memanas. Namun dia mencoba mencairkan suasana dan pada akhirnya ketua RT dan RW bakal berembug kembali.
"Saya sampaikan ke Pak Kades, permasalahan seperti itu baiknya bisa diselesaikan di desa. Yang terpenting, pelayanan pada masyarakat tak terganggu. Para RT dan RW juga punya komitmen bagus, tetap akan melayani masyarakat," papar Trisnadi.
Soal ada kesepakatan drama di balik pengunduran diri para Ketua RT dan RW dengan kades, camat mengaku tak mengetahuinya saat Musrenbangdes digelar.
Yang terpenting, dia meminta pelayanan pada masyarakat tak terganggu. Selain itu, hingga saat ini belum ada surat pengunduran diri resmi dari para ketua RT dan RW.
Bagaimana soal harapan ketua RT dan RW agar kades meminta maaf?
"Kalau itu saya tidak bisa berkomentar. Karena saya juga tidak tahu saat itu. Yang jelas kita meminta permasalahan tak mengganggu pelayanan masyarakat dan bisa diselesaikan di tingkat desa," terang Trisnadi.
Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Wonogiri Djoko Purwidyatmo mengatakan, insentif bagi ketua RT dan RW sudah ditetapkan.
Dia juga belum menerima surat resmi pengunduran diri dari ketua RT/RW di Desa Jatisari.
"Artinya RT dan RW itu masih berjalan, bertugas. Pak camat juga belum menerima surat itu," ucapnya.
Soal tuntutan para ketua RT dan RW yang kecewa dengan sikap kades yang dinilai tak konsisten, Djoko menyerahkannya kepada Kades Jatisari.
"Itu tergantung dari Pak Kades. Yang jelas kita belum menerima surat pengunduran diri juga. Kita akan melakukan kajian juga soal permasalahan ini," beber dia.
Terkait adanya drama pengunduran diri masal ketua RT dan RW, Djoko meyakini permasalahan itu bakal segera mereda.
"Sekarang yang dipermasalahkan para ketua RT dan RW kan bukan soal insentifnya. Tapi sikap kadesnya," pungkas Djoko. (al/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono