RADARSOLO.COM–Tidak hanya pemkab, warga Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri telah mengetahui rencana berdirinya industri semen.
Meskipun masih sebatas rencana, pendirian pabrik semen memicu terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat.
Warga yang pro dengan rencana berdirinya pabrik semen berharap adanya kemajuan dan terbukanya lapangan pekerjaan di wilayah setempat.
Sementara warga yang kontra, khawatir dengan sejumlah hal.
Diantaranya dampak negatif ke alam hingga kemungkinan polusi yang akan terjadi di masa depan.
Pardoyo, 60, warga Desa Watangrejo mengatakan, para tetangganya sudah mendapatkan informasi soal rencana berdirinya pabrik semen.
Pria paro baya tersebut setuju dengan rencana berdirinya pabrik semen itu.
“Kula nderek mawon (saya ikut saja). Kersane (biar) pengangguran berkurang. Nanti pengangguran bisa dapat kerja. Ada lapangan kerja,” ujar Pardayo ditemu saat menggarap ladang.
Menurut dia, banyak warga setempat merantau untuk mencari kerja.
Sebab, lowongan kerja di sekitar desanya juga terbatas.
Anaknya Pardoyo juga merantau ke luar wilayah.
Di usia senjanya, Pardoyo juga masih bertani. Biasanya dia menanam padi, jagung hingga kacang.
“Ini panen jagung. Sekalian ditanami kacang. Kalau padi, cuma sekali setahun tidak seperti daerah lain. Jagung ini juga sekali setahun,” beber dia.
Pardoyo tak menampik adanya warga yang khawatir dampak ke lingkungan saat pabrik semen berdiri.
“Mestinya ada juga yang khawatir. Tapi semoga ya tidak ada (dampak buruk ke lingkungan),” harapnya.
Irwan Hari Purnomo, salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Pracimantoro mengamini bahwa ada pro dan kontra soal rencana industri semen di wilayah setempat.
Sebab, dulu di wilayah Kecamatan Giriwoyo juga pernah ada pro dan kontra rencana berdirinya industri semen hingga akhirnya prosesnya mandek.
"Pro dan kontra jelas. Bahkan sempat ada isu kalau itu (industri semen berdiri) bakal ada bedol deso dan lainnya. Memang perlu edukasi supaya masyarakat paham," kata dia.
Irwan menuturkan, sepengetahuannya, langkah yang perlu dilakukan investor adalah mengajak warga ke industri semen di wilayah lain.
Itu agar warga mengetahui potensi dampak dan langkah yang diambil untuk memitigasinya dan solusinya.
Irwan menilai, potensi di Pracimantoro sangat luar biasa.
Saat potensi itu dimanfaatkan, otomatis akan mengurangi pengangguran.
"Yang pro dan kontra banyak. Ada yang di medsos seperti grup Facebook. Monggo kalau mereka mau berdiskusi atau mau mengkontribusikan pikiran atau tenaga. Semua perlu proses dan kedewasaan," urainya.
Irwan melihat, ada potensi Wonogiri mendapatkan PAD dari adanya industri itu.
Sebagai tokoh, dia juga ingin agar tercipta lapangan kerja baru.
"Yang terpenting, perusahaan tetap sesuai dengan regulasi yang ada," beber dia.
Kelompok yang pro dengan pembangunan industri semen di Pracimantoro juga muncul.
Salah satunya adalah Paguyuban Cinta Pracimantoro.
Secara terbuka, mereka mendukung berdirinya pabrik semen bahkan ingin agar pabrik semen segera berdiri.
Permadi, salah satu pentolan paguyuban tersebut, Permadi mengatakan, pihaknya mendukung pembangunan pabrik semen karena ingin ekonomi wilayah setempat terdongkrak.
Selain itu juga membuka lapangan pekerjaan di wilayah setempat.
“Kita berharap agar pabrik semen segera berdiri. Banyak warga di Pracimantoro tidak punya pekerjaan,” kata dia.
Soal kekhawatiran dampak pabrik semen ke lingkungan yang disuarakan warga yang kontra, pihaknya meyakini tak akan berdampak pada menyusutnya sumber air, polusi udara hingga polusi suara.
Sebab, dia sudah pernah ikut ke pabrik semen lain di wilayah Grobogan.
“Disana itu di sampingnya perumahan, sawah. Tidak ada debu, asap juga tidak ada. Air juga bagus,” kata dia.
Kepala Desa Watangrejo Hermadi mengatakan, mayoritas warga setuju.
Sebab, hadirnya pabrik semen bakal mengurangi pengangguran di wilayah setempat.
Hermadi juga ikut melihat pabrik semen di Grobogan.
Baca Juga: 2 Ruas Jalan di Wonosari Klaten Masih Progres Perbaikan, Bagaimana jika hingga Mudik Enggak Rampung?
Awalnya dia membayangkan pabrik semen itu penuh dengan asap mengepul dari cerobong dan suara bising mesin.
Namun hal itu tak nampak saat melihat langsung produksi di pabrik semen Grobogan.
“Sampai di sana ternyata berbeda. Bayangan awal sumber air habis. Ternyata di samping pabrik semen sawahnya bagus-bagus saja,” beber dia.
Di bagian lain, kelompok yang kontra dengan adanya pabrik semen di Kecamatan Pracimantoro juga terbentuk.
Belakangan ini, suara penolakan makin kencang. Kelompok itu menamai sebagai Laskar Tali Jiwa.
Salah satu sumber radarsolo.com mengatakan, ada sejumlah hal yang dikhawatirkan warga atas berdirinya pabrik semen di Pracimantoro.
Diantaranya adalah dampak lingkungan. Misalnya soal kebutuhan air untuk produksi,
Lalu soal berkurangnya air di wilayah sekitar pabrik.
“Pengalaman di Watangrejo, dulu juga daerah yang mahal air. Warga bikin sumur. Lalu ada sumur bor dan sekarang digunakan masyarakat. Begitu sumur bor jadi, sumur warga berhenti. Bisa dibayangkan dan mendapat gambaran,” urai sumber tersebut.
Pihak yang menolak pabrik semen khawatir dengan polusi.
Termasuk dengan ekosistem karst yang bisa terganggu akibat kegiatan industri semen.
Selain itu, pihaknya juga skeptis dengan janji-janji soal kesejahteraan masyarakat di sekitar industri semen.
“Kita juga belajar dari pabrik semen lain. Ada yang bercerita dulu diberi janji seperti itu, tapi kenyataannya berbeda. Jadi sebelum telanjur ya jangan terjadi,” tegasnya.
Baca Juga: After Sahur Ride Bikin Resah Masyarakat, Polres Sukoharjo Langsung Bertindak
Berdasarkan informasi yang didapatkan pihaknya, di pabrik semen lain tetap melakukan seleksi untuk merekrut pekerja.
Pihaknya menyadari, gerakan penolakan itu juga terkesan terlambat.
Pasalnya, izin seperti AMDAL sudah keluar dan penolakan baru kencang disuarakan.
Sumber radarsolo.com menegaskan, pihaknya terbuka dengan industri. Namun, tidak dengan industri semen.
“Pabrik lain seperti garmen silakan, tidak menolak. Kita tidak menolak investasi. Tapi ya jangan semen,” kata dia
Sumber radarsolo.com mengatakan, sebelumnya warga yang menolak sempat patah arang.
Namun, munculnya dukungan dari sejumlah pihak seperti tokoh dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan (JMPP) Kendeng dan lainnya, kembali membuat semangat warga yang kontra industri semen kembali menyala.
Apa yang kemudian akan dilakukan mereka yang kontra dengan pabrik semen?
Sumber radarsolo.com menyebut, warga bakal menolak menjual lahannya.
“Juga menggugat izin yang sudah terbit dengan bantuan advokasi. Ada rencana itu. Juga lewat kawan-kawan yang pernah ada kasus serupa. Kami mengupayakan harapan itu,” pungkas sumber tersebut. (al/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono