RADARSOLO.COM-DPRD Wonogiri menggelar rapat dengar pendapat (RDP), Senin (14/4/2025).
Membahas rencana pendirian pabrik dan penambangan semen di wilayah tersebut.
Rapat tersebut dihadiri oleh puluhan warga yang tergabung dalam Paguyuban Laskar Tali Jiwo.
Pantauan radarsolo.com di kantor DPRD Wonogiri, puluhan warga mulai memasuki ruang rapat pada pukul 10.00.
Warga yang hadir terdiri dari berbagai usia, baik laki-laki maupun perempuan.
Sebagian dari mereka mengenakan caping, sementara yang lainnya berpakaian kasual.
Aparat kepolisian dan Satpol PP terlihat berjaga di area sekitar kantor DPRD untuk memastikan keamanan jalannya rapat.
Suasana di lokasi cukup kondusif, dengan para anggota paguyuban saling menyapa dan menyalami personel kepolisian, Satpol PP, serta anggota dewan yang telah menyambut kedatangan mereka.
Rapat Dengar Pendapat ini diadakan untuk mendengarkan pandangan dan aspirasi masyarakat.
Terkait pendirian pabrik semen dan penambangan di daerah tersebut, yang menjadi topik kontroversial di kalangan warga.
Proses diskusi ini diharapkan bisa memberikan gambaran yang jelas mengenai dampak sosial dan lingkungan dari rencana tersebut.
Diketahui, rencana pendirian pabrik semen di Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, memicu pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Dalam menghadapi potensi gesekan antarkelompok, pemkab bersama TNI/Polri mengambil langkah proaktif.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menekankan dukungannya terhadap proyek ini.
Setyo menyatakan, bahwa selama semua persyaratan hukum dan lingkungan terpenuhi, proyek harus didorong.
“AMDAL dan regulasi lainnya jika sudah terpenuhi, kami akan mendukung. Kita bersama-sama ingin memajukan Wonogiri,” ungkap Setyo.
Pendirian pabrik diharapkan akan membawa berbagai manfaat ekonomi, termasuk penyerapan tenaga kerja lokal dan pertumbuhan UMKM serta multiplier effect lainnya.
Namun, Bupati mengakui adanya potensi konflik dan menegaskan pentingnya mencari solusi atas perbedaan yang ada.
“Kami akan bekerja bersama Pak Kapolres dan Pak Dandim untuk mengantisipasi gesekan yang mungkin terjadi,” tambah Setyo. (al/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono