Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Belum Pulih Pasca Pandemi, Kerajinan Rancak Gamelan Makin Terpuruk Akibat Kebiijakan Efisiensi Anggaran

Iwan Adi Luhung • Kamis, 24 April 2025 | 21:49 WIB
Perajin rancak gamelan di Lingkungan Jatibedug, Kelurahan Punduhsari, Manyaran, Wonogiri terseok-seok akibat pandemi dan efisiensi anggaran.
Perajin rancak gamelan di Lingkungan Jatibedug, Kelurahan Punduhsari, Manyaran, Wonogiri terseok-seok akibat pandemi dan efisiensi anggaran.

RADARSOLO.COM-Pasca pandemi Covid-19, sentra produksi rancak gamelan di Lingkungan Jatibedug, Kelurahan Punduhsari, Manyaran, Wonogiri, mengalami penurunan pesanan yang signifikan.

Eko Wiyono, salah satu perajin gamelan mengungkapkan, pesanan rancak gamelan semakin sepi sejak pandemi.

Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah turut memengaruhi pesanan.

“Sejak pandemi, pesanan rancak gamelan sangat sepi," jelasnya, Kamis (24/4/2025).

"Sekitar empat bulan terakhir, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah berdampak pada berkurangnya pesanan, kebanyakan datang dari dinas,” imbuh perajin yang akrab disapa Komir.

Menurut Komir, sebelum pandemi, pesanan rancak gamelan cukup banyak.

Dalam satu bulan, setidaknya ada 10 hingga 15 set pesanan gamelan.

Namun, sejak April 2020, kondisi tersebut berubah drastis.

"Dulu, setiap triwulan pertama sudah banyak kerjaan yang eksekusi pada bulan April. Tapi sekarang, pesanan cuma 1-2 set dalam sebulan, itu pun harus berusaha keras,” tambahnya.

Kondisi ini juga dipengaruhi merosotnya pesanan rancak gamelan  dari instansi pemerintah.

Sedangkan pesanan dari perorangan semakin sulit ditemukan.

Baca Juga: Sendang Tirto Sinongko Klaten: Destinasi Wisata Alam dengan Keindahan yang Menenangkan Jiwa dan Menyegarkan

Ditambahkan Komir, harga satu set rancak gamelan laras slendro dan pelog dibanderol mulai Rp17,5 juta hingga Rp22,5 juta. Tergantung bahan yang digunakan.

Jika menggunakan kayu jati, harga akan lebih mahal.

Meskipun permintaan lesu, Komir dan para pekerja tetap berusaha mempertahankan produksi.

"Kami masih bertahan, walaupun banyak tantangan. Ini adalah usaha kami, dan kami berharap keadaan bisa segera pulih,” kata Komir. (al/wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#kerajinan #efisiensi anggaran #manyaran #wonogiri #rancak gamelan #sepi #pesanan