Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Cerita Mistis di Balik Larung Kepala Sapi di Pantai Sembukan Paranggupito Wonogiri dalam Tradisi Labuhan Ageng

Iwan Adi Luhung • Jumat, 27 Juni 2025 | 23:45 WIB
Proses larung kepala, kaki dan ekor sapi di Pantai Sembukan Wonogiri dalam tradisi Labuhan Ageng, Kamis (26/6/2025).
Proses larung kepala, kaki dan ekor sapi di Pantai Sembukan Wonogiri dalam tradisi Labuhan Ageng, Kamis (26/6/2025).

RADARSOLO.COM-Labuhan Ageng di Pantai Sembukan, Desa/Kecakatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri sarat akan nilai-nilai budaya.

Di sisi lain, ada syarat khusus atas bagian tubuh sapi yang dilarung ke Laut Selatan.

Mitosnya, jika syarat itu tak dipenuhi maka bakal terjadi musibah di wilayah setempat.

Suprapto, salah satu tokoh masyarakat Paranggupito mengatakan, tradisi Labuhan Ageng sudah ada sejak zaman dahulu.

Tradisi melarung sejumlah bagian tubuh sapi itu terus dilakukan hingga saat ini sebagai wujud syukur atas karunia yang telah diberikan kepada warga.

"Tradisi ini dijaga dan masih berjalan sampai saat ini," ujar dia Jumat (27/6/2025).

Seperti Labuhan Ageng yang digelar pada Kamis (26/6/2025).

Tradisi menjelang 1 Suro itu dilaksanakan dengan penuh khidmat.

Sejumlah bagian tubuh sapi seperti kepala, kaki dan ekor dilarung ke Laut Selatan.

Ada kabar bahwa bagian tubuh sapi yang dilarung itu harus memenuhi syarat.

Jika syarat itu tak terpenuhi, maka bisa terjadi musibah di Paranggupito.

"Iya, kepercayaan di masyarakat memang seperti itu. Dan dari panitia berupaya memenuhi syarat-syarat tersebut," kata pria yang akrab disapa Prapto itu.

Baca Juga: Apakah Ada Larangan Menikah di Bulan Suro Menurut Islam? Cek Kebenaran dan Penjelasannya

Adapun syaratnya adalah bagian tubuh sapi yang dilarung itu adalah sapi jantan, berwarna putih dan memiliki tanduk.

Pernah ada pengalaman syarat itu tak terpenuhi. Kemudian sapi milik warga banyak yang mati tanpa sebab.

"Ada warga yang sakit mendadak, ada yang kesurupan. Ini coba diantisipasi panitia. Sapi yang dilabuh diupayakan memenuhi syarat daripada disalahkan," kata Prapto.

Pengalaman lain juga pernah dialami. Beberapa tahun lalu karena minim anggaran panitia tidak menyembelih sapi.

Namun hanya membeli kepala, kaki dan ekor sapi untuk dilarung.

Tapi anggota tubuh sapi yang dilarung, balik lagi ke tepi Pantai Sembukan. Seakan 'ditolak' untuk terbawa arus.

Kepala sapi diarak menggunakan tandu menuju Pantai Sembukan untuk dilarung.
Kepala sapi diarak menggunakan tandu menuju Pantai Sembukan untuk dilarung.

Kepala sapi kembali dilarung tapi tetap saja kembali ke pantai.

Hingga akhirnya bagian tubuh sapi itu dibiarkan membusuk di pantai. 

"Ada kepercayaan di masyarakat soal itu. Jadi memang diupayakan memenuhi syarat," kata Prapto.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Desa Paranggupito Agus KD mengatakan, mitos itu dipercaya oleh sejumlah warga.

Apalagi Pantai Sembukan juga dikenal memiliki mitos sebagai gerbang ke-13 kerajaan Laut Selatan.

"Jadi ada yang percaya ada yang tidak. Sebab jika dilogika sesuai ilmu pengetahuan kan tidak ada kaitannya. Tapi ada warga yang percaya itu," kata dia.

Baca Juga: Mengapa Kotoran Kebo Bule Kyai Slamet Jadi Rebutan Warga Saat Kirab Malam 1 Suro Keraton Solo? Ini Mitos dan Fakta di Baliknya

Di sisi lain, Agus menuturkan, Labuhan Ageng di tahun ini terasa spesial.

Pasalnya, tradisi itu dihadiri langsung oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno dan diisi pentas kesenian yang seluruhnya dilakukan oleh warga lokal.

Ribuan orang dari dalam dan luar kota mengikuti rangkaian acara yang digelar.

"Semua penampilan kesenian dari warga lokal. Dari kesenian tari-tarian, gamelan sampai wayangan. Kita ingin tunjukkan bahwa warga desa wisata ini bisa tampil," pungkas dia. (al)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#kepala sapi #pantai sembukan #paranggupito #wonogiri #Labuhan Ageng