RADARSOLO.COM- Wonogiri kerap terdampak gempa meski episentrum atau pusat gempa jauh kabupaten setempat.
Bahkan dalam sejumlah kasus, dampak yang dirasakan Wonogiri bisa lebih parah dibandingkan wilayah lain yang dekat dengan episentrum gempa.
Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Hartanto didampingi kepala BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara Hery Susanto Wibowo menerangkan, salah satu faktor yang memengaruhi dampak gempa adalah kondisi tanah lokal di wilayah terdampak.
Dia menerangkan, saat tanah lokal bersteksur keras, maka bisa meredam guncangan.
Namun, jika tanah lokal lunak bisa memperbesar guncangan akibat gempa.
"Tanah lunak itu seperti endapan-endapan," ujar Hery di sela acara Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Wonogiri, Kamis (9/10/2025).
BMKG menyebut, tanah karst juga bisa berpengaruh atas dampak gempa.
Termasuk wilayah Wonogiri berupa cekungan yang banyak mengandung tanah endapan.
Perlu kajian dan pengukuran untuk memastikan tanah di Wonogiri dikategorikan sebagai tanah keras, sedang atau lunak.
"Semisal tanahnya lunak, konstruksi bangunan harus lebih kuat," beber dia.
Pihaknya menerangkan, gempa yang dirasakan di Wonogiri biasanya diakibatkan dari dua sumber.
Pertama pertemuan antara lempeng benua dan lempeng samudera di Samudera Indonesia atau sesar aktif yang berada di daratan Wonogiri.
Gempa bersumber sesar aktif beberapa kali tercatat, tetapi dengan magnitudo kecil, di bawah 3, sehingga dampaknya tidak terasa.
Adapun gempa bersumber dari pertemuan lempeng benua dan samudera beberapa kali tercatat dari luar wilayah Wonogiri. Namun, dampaknya justru lebih besar di Wonogiri.
Misalnya gempa berkekuatan 5,2 magnitudo yang berpusat di selatan Gunungkidul juga berdampak di Wonogiri Februari 2025.
Dimana menimbulkan tanah longsor di Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo.
Sementara itu, Hartanto mengatakan, gempa tektonik yang berpusat di Samudera Indonesia dalam skenario terburuk bisa menciptakan megathrust berkekuatan 9,1 Magnitudo.
Dampak tsunami kemungkinan terasa di daerah sekitar pantai. Namun, dampak gempa bumi dapat dirasakan di wilayah daratan Wonogiri.
"Seperti dampak kerusakan bangunan dan lainnya. Karena itu kita gelar Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami itu diadakan sebagai edukasi kepada masyarakat. Kesiapsiagaan harus dibangun setiap saat karena gempa bumi tidak bisa diprediksi," papar dia.
Wakil Bupati (Wabup) Wonogiri Imron Rizkyarno mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada BMKG dan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sriyanto Saputra karena dengan adanya Sekolah Lapang Genpa Bumi dan Tsunami bisa dilakukan langkah mitigasi oleh sejumlah pihak.
"Wilayah Wonogiri sangat kompleks. Ada gunung, hutan sampai pantai. Kegiatan ini sebagai persiapan dini menyikapi hal-hal yang tidak kita inginkan," kata dia.
Wabup menilai, pihak yang diundang sperti relawan hingga pihak sekolah bisa mendapatkan pengetahuan dan mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi dan tsunami.
"Semoga kegiatan ini bisa dilakukan tiap tahun. Jadi menyegarkan ilmunya," pungkas Imron. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono