Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

1.000 Warga Wonogiri Terdeteksi Mengalami Gangguan Jiwa, Apakah sama dengan Gila? Dokter Spesialis Kejiwaan RSUD Beri Penjelasan

Iwan Adi Luhung • Rabu, 12 November 2025 | 00:14 WIB
dr. Hariyanti, Sp. KJ, dokter spesilis kejiwaan RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso.
dr. Hariyanti, Sp. KJ, dokter spesilis kejiwaan RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso.

RADARSOLO.COM - Hasil pemeriksaan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sebanyak 1.095 warga Wonogiri terdeteksi mengalami gangguan jiwa.

Tidak hanya orang dewasa, dari jumlah itu juga terdapat sejumlah pelajar.

Apakah gangguan jiwa sama dengan gila? Simak penjelasan Hariyanti, dokter spesialis kejiwaan di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso.

Diterangkannya, memiliki gangguan kejiwaan bukan berarti seseorang itu gila.

Orang dengan gangguan kejiwaan, baik yang ringan maupun berat, memerlukan dukungan kuat dari keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Ketika seseorang menjalani skrining dan hasilnya mengindikasikan gangguan kejiwaan, serta orang tersebut merasa terganggu atas keluhannya, maka ia bisa memeriksakan diri untuk menjalani diagnosis.

"Kalau kondisinya ringan sampai sedang, bisa ke psikolog. Kalau dirasa perlu ke psikiater bisa diarahkan ke psikiater," ujar Hariyanti, Selasa (11/11/2025).

Ditambahkan dokter berkerudung itu, ada beberapa macam gangguan kejiwaan. Di antaranya gangguan jiwa berat dan gangguan jiwa ringan.

Menurut Hariyanti, saat seseorang memiliki gangguan jiwa berat, biasanya orang lainlah yang merasa terganggu dengan dampaknya, misalnya perilaku agresif.

Jika kondisi seperti itu, pasien bisa segera dibawa ke psikiater.

"Tapi kalau gangguan jiwa ringan, yang terganggu orang yang mengalami sendiri yang merasakan dampaknya. Misalnya gangguan tidur, lalu ke gangguan fisik seperti mual, sering pusing, jantung berdebar. Lalu juga ada rasa waswas. Itu bisa memeriksakan diri," papar dia.

Hariyanti menegaskan, stigma di masyarakat bahwa seseorang yang memeriksakan diri ke psikolog, psikiater, atau dokter jiwa adalah orang gila adalah pandangan yang keliru.

Baca Juga: Jalur Gunung Pegat Wonogiri Dibersihkan, BPBD Libatkan 200 Personel Gabungan untuk Cegah Longsor dan Pohon Tumbang

Sebab, gangguan jiwa berat justru hanya sedikit dari pasien yang datang memeriksakan diri.

"Kebanyakan gangguan jiwa ringan seperti gangguan tidur, gangguan kecemasan, dan depresi," kata dia.

Hariyanti menuturkan, ada banyak penyebab gangguan jiwa.

Di antaranya mulai dari faktor genetik, pola asuh saat kecil, faktor lingkungan (salah satunya stressor) hingga faktor biologis.

"Orang yang mengalami gangguan jiwa itu jangan distigma kalau imannya kurang, jangan seperti itu. Karena ada banyak faktor yang memengaruhi," beber dia.

Orang yang memiliki gangguan kejiwaan juga memerlukan dukungan.

Baik dari keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Termasuk dukungan agar mendapatkan pengobatan yang tepat.

Lebih jauh Hariyanti menuturkan, anak-anak bisa menderita gangguan kejiwaan karena sejumlah faktor. Seperti bawaan, contohnya autisme, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan lainnya. Ada juga penanganan khusus yang bisa dilakukan.

Sementara itu, gangguan kejiwaan berat banyak muncul saat remaja dan usia produktif, misalnya seperti skizofrenia dan psikotik.

"Penyebab itu tadi. Kalau stressor-nya juga banyak. Bisa karena masalah ekonomi, keluarga seperti perceraian. Bullying juga bisa untuk remaja yang masih sekolah," kata dia.

Untuk lansia, gangguan kejiwaan depresi juga bisa terjadi. Salah satunya, imbuh Hariyanti, karena kesepian dan sakit yang tak kunjung sembuh.

Hal itu juga bisa memicu seseorang depresi karena memiliki penyakit dan mendorong untuk melakukan bunuh diri.

"Di Wonogiri banyak yang merantau, mereka (lansia) mungkin ditinggal merantau dan loneliness (merasa kesepian) ditambah mungkin punya penyakit kronis. Karena itu juga butuh dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar agar tidak terjadi hal semacam itu (bunuh diri)," urai Hariyanti. (al)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#hariyanti #psikiater #gangguan jiwa #penanganan #Cek Kesehatan Gratis #depresi #dokter spesialis kejiwaan #gila #wonogiri #CKG