RADARSOLO.COM-Desa Sirnoboyo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, meluncurkan inovasi bernama SENADA.
SENADA adalah akronim dari Sentra Ekonomi, Aspirasi, Pendidikan, dan Budaya.
Program ini dirancang komprehensif oleh pemerintah desa untuk menjawab berbagai permasalahan kompleks yang dihadapi warga.
Penjabat (Pj) Kades Sirnoboyo Agung Trisilo mengatakan, program ini adalah solusi inovatif untuk meningkatkan kesejahteraan dan partisipasi masyarakat.
Fokus I: Mengakomodasi Aspirasi Lewat Sarasehan Santai
Masalah pertama yang diatasi adalah penyerapan aspirasi warga yang dinilai kaku dan tidak optimal.
Banyak warga merasa canggung menyalurkan ide, terutama karena latar belakang pendidikan yang beragam.
"Desa ingin mengubah itu. Kita berupaya mengakomodasi semua lapisan. Maka kita buat agenda lebih rileks, tidak formal," kata Agung.
Salah satu implementasinya adalah menggelar sarasehan yang didesain sesantai mungkin, di mana penjaringan usulan dilakukan dengan cara nonformal bahkan melalui obrolan ringan.
Fokus II: Sentra Ekonomi dan Pelatihan Digital Marketing
Desa Sirnoboyo menyadari potensi sekitar 80 UMKM lokal. Untuk meningkatkan daya saing, desa menciptakan inovasi sentra ekonomi yang bekerja sama dengan pemerintah kecamatan, kabupaten, hingga akademisi.
"UMKM di desa kami ada sekira 80. Kami sadar kalau tidak dikembangkan maka UMKM tidak akan bisa bersaing dengan UMKM dari luar wilayah," kata Agung.
Langkah konkretnya adalah:
- Pameran dan Pasar Ramadan: Menyediakan tempat di depan balai desa tanpa dipungut biaya bagi warga untuk menjajakan produk UMKM-nya. "Memaksimalkan ruang publik untuk warga," beber Agung.
- Pelatihan Produktif: Mengadakan pelatihan pembuatan pakan ternak mandiri dengan memanfaatkan daun trembesi, serta pelatihan marketing digital agar UMKM mampu memasarkan produknya lebih luas dan menarik.
Fokus III: Cetak Hamicara Lokal Melalui Pelatihan Budaya
Di sektor pendidikan dan kebudayaan, lahir inovasi unik: pelatihan hamicara (juru bicara/pembawa acara adat).
Ide ini muncul karena terbatasnya sosok hamicara yang mumpuni di desa. Bahkan untuk acara adat seperti pasrah manten, warga harus meminta bantuan dari desa lain.
"Desa coba support ini, didanai agar di desa ada juga yang bisa. Jadi bisa mandiri, warga setempat yang jadi hamicara," jelas Agung.
Pj Kades Agung Trisilo menegaskan bahwa kolaborasi dengan pemerintah di atas dan universitas sangat penting karena desa tidak bisa berjalan sendiri dalam mewujudkan seluruh program SENADA ini. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono