RADARSOLO.COM-Jalur Tunggangan yang membelah perbatasan Kecamatan Jatiroto dan Tirtomoyo, Wonogiri tidak hanya dikenal karena medannya yang ekstrem.
Tetapi juga karena aura mistis yang menyelimutinya.
Di balik tanjakan terjal hutan pegunungan ini, terdapat dua titik yang hingga kini dianggap wingit (keramat) oleh warga setempat, yaitu Watu Dukun dan Watu Kursi.
Kepala Desa Ngelo, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri Nanik Nur Samawati, mengungkapkan bahwa cerita tutur di masyarakat mengenai keangkeran jalur ini masih sangat kental, terutama terkait keberadaan sosok penunggu hutan.
Watu Dukun: Lokasi Nazar dan Titik Rawan Kecelakaan
Watu Dukun dikenal sebagai tempat bagi mereka yang ingin memenuhi nazar.
"Sejak dulu sering digunakan untuk nyadran atau nyekar memenuhi janji. Misalnya, setelah sembuh dari penyakit, mereka datang ke Watu Dukun," jelas Nanik.
Namun, lokasi ini juga menyimpan sisi gelap. Sering terjadi kecelakaan yang melibatkan pengendara, uniknya mayoritas korban berasal dari luar daerah.
Selain itu, terdapat kisah kelam masa lalu mengenai kasus pembunuhan seorang wanita yang jasadnya dikubur di area jalur Tunggangan, yang konon sosoknya terkadang masih menampakkan diri di sekitar lokasi.
Watu Kursi dan Larangan Eksploitasi
Tak jauh dari sana, terdapat Watu Kursi, sebuah batu besar yang bentuknya secara alami menyerupai kursi. Karena dianggap sakral, masyarakat dilarang keras melakukan eksploitasi atau perusakan di area ini.
Sebuah kisah lokal menceritakan seorang tukang ojek asal Jatiroto yang pernah diminta mengantarkan seorang wanita misterius ke lokasi tersebut.
Setelah tertidur di lokasi, tukang ojek itu baru tersadar dan terbangun keesokan paginya di tengah kesunyian hutan.
Di balik segala mitosnya, secara teknis Jalur Tunggangan merupakan jalur yang sangat berbahaya bagi kendaraan besar.
Kontur jalan yang sempit dan ekstrem sering membuat truk atau bus terguling atau tersesat jika memaksakan diri melintas.
"Sudah ada spanduk peringatan yang dipasang agar kendaraan berat tidak lewat di situ demi menghindari kecelakaan," tegas Nanik.
Pengendara diminta untuk selalu waspada dan menghormati etika setempat saat melintasi jalur penghubung Jatiroto-Tirtomoyo ini. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono