RADARSOLO.COM-Pihak mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri buka suara atas dugaan keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) yang dialami ratusan pelajar.
Pemilik SPPG Jatisari Kecamatan Jatisrono Arianto mengatakan, kejadian luar biasa (KLB) atau dugaan keracunan menu MBG itu terjadi usai siswa menyantap menu yang diberikan pada Jumat (9/1/2026).
"Menu basah di hari Jumat itu ada mi ayam, bakso, pangsit, sayurnya sawi dan ada saus kemasan. Lalu menu keringnya ada roti, susu dan buah," kata dia.
Menurut Arianto, distribusi MBG pada saat itu berjalan tanpa kendala. Pada Sabtu (10/1/2026), pihaknya juga tak mendapatkan komplain.
SPPG Jatisari menyimpan sampel menu di showcase 2x24 jam. Selain itu, sampel lain di suhu ruang biasa disimpan 1x24 jam.
"Sampel Jumat, Minggu (11/1/2026) pagi dibersihkan cleaning service karena Minggu siang sudah harus klir dan sorenya sudah ada aktivitas," beber Arianto.
Pada Minggu siang Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) SPPG menerima aduan dari PIC salah satu sekolah yang diduga keracunan akibat menu MBG.
Laporan itu disertai foto susu yang disebut kadaluarsa pada Juli 2025.
"Itu sedikit jadi ramai, Senin (12/1/2026) puskesmas ke dapur kroscek susu. Termasuk di kardus bekasnya. Ternyata tidak ada yang (kadaluarsa) 2025," kata Arianto.
Menurut pihaknya, cetakan tanggal kadaluarsa di susu kurang sempurna di angka 6. Sehingga nampak tertulis 2025.
"Cetakannya kurang sempurna, jadi (angka 6) kelihatan seperti 5. Sudah terbantahkan. Sudah diminum juga ya tidak ada masalah," beber dia.
Meski demikian, pihaknya terjun ke lima sekolah dimana dilaporkan ada siswa yang diduga mengalami gejala memgarah keracunan.
Sekolah yang dikroscek adalah SDN 2 Pandeyan, SDN 3 Pandeyan, SDN 2 Tasikhargo, SDN 2 Kutolawas dan MTs Al-Amanah.
"Siswa yang diduga diare totalnya ada 94. Diskrining juga apakah ada yang opname, sampai sekarang tidak ada," beber Arianto.
Diketahui, Rabu (14/1/2026) Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri melaporkan ada 1.158 siswa yang dicek dan diketahui 206 yang mengalami gejala mengarah keracunan seperti mual, muntah hingga diare. 952 lainnya tak mengalami gejala. Laporan Dinkes itu diterima Bupati Wonogiri Setyo Sukarno
Disinggung soal perbedaan data itu, Arianto mengatakan ada beberapa sekolah baru melaporkan setelah pihaknya terjun Senin lalu.
Pihaknya juga mengklaim belum selesai melakukan pendataan.
"Skrining sementara itu. Sampai muncul namanya (siapa saja yang mengalami gejala mengarah keracunan). Kita pantau juga ternyata ada sekolah yang piknik di hari Minggu. Tapi di hari Senin yang nggak masuk banyak. Dari pihak dapur juga bingung masalahnya darimana karena ada keterlambatan pelaporan," papar Arianto.
Pihak dapur juga masih mendistribusikan menu MBG pada Senin-Rabu.
Namun, distribusi MBG pada Kamis (15/1/2026) disetop.
Itu usai pihak SPPG mendapatkan petunjuk dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyetop diatribusi MBG mulai Kamis.
"Disetop mulai Kamis sampai hasil laboratorium keluar," kata dia.
Apa sampel yang dibawa oleh Dinkes? Arianto mengatakan karena yang sejak awal yanh dipermasalahkan adalah susu dan stok susu di dapur masih ada sampel susu dibawa Dinkes dan kepolisian.
Selain itu juga ada sampel saus kemasan yang dibawa kepolisian.
Pasca kejadian dugaan keracunan, Arianto mengatakan, pihaknya turut melakukan evaluasi. Pihaknya juga sudah melaporkan peristiwa itu kepada BGN.
"Tadi (Rabu) siang kita dapat surat pemberhentian sementara sampai hasil laboratorium Dinkes keluar. Ini jadi pembelajaran bagi SPPG. Ke depan, kita akan lebih hati-hati. Apalagi terhadap menu-menu dan cuaca. Kebetulan rumah dekat rumah sakit dan banyak yang sakit," jelasnya.
"Tapi tidak memungkiri, kami dari pihak dapur juga berusaha bertanggung jawab atas kejadian ini. Semisal ada yang periksa kita siap mengganti. Kita berusaha bertanggung jawab," imbuh dia.
Soal SOP yang dijalankan di dapur, Arianto mengakui saat awal-awal dapur beroperasi penyempurnaan dilakukan sambil berjalan.
"Kita mungkin belum sempurna sambil jalan. Saat libur sekolah kemarin kita penyempurnaan di dapur," kata dia.
Sementara itu, Dinkes Wonogiri telah terjun ke dapur pada Rabu. "Pemeriksaan sampel makanan. Masih proses," kata dia. (al/aw)
Editor : Tri wahyu Cahyono