RADARSOLO.COM-Program makan bergizi gtatis (MBG) di Wonogiri genap berjalan satu tahun.
Di balik capaian yang diraih, program tersebut juga diwarnai empat kali kejadian luar biasa (KLB) berupa keracunan massal akibat mengonsumsi menu MBG.
Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Wonogiri Pandri Prabowo mengatakan, berbagai tantangan yang muncul selama setahun terakhir menjadi bahan evaluasi.
Pihaknya memastikan perbaikan terus dilakukan agar program berjalan lebih efektif, tepat sasaran dan berkelanjutan.
"Program ini bukannya tanpa tantangan dan kendala. Tetapi berkat kerja sama, koordinasi dan komitmen bersama, berbagai kendala itu bisa diatasi secara bertahap," ujarnya dalam peringatan satu tahun MBG di Rumah Makan Saraswati, Brumbung, Wonogiri, Jumat (13/2026) malam.
Pandri menegaskan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib menjalankan standar operasional dan prosedur (SOP) secara ketat.
Selain itu, SPPG harus mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Hingga Februari 2026, tercatat 64 SPPG telah beroperasi di Wonogiri. Sementara sembilan SPPG lainnya masih dalam tahap persiapan.
"Yang sembilan SPPG ditargetkan sudah beroperasi di bulan puasa ini," kata Pandri.
Dari jumlah tersebut, 62 SPPG telah mengantongi SLHS. Kemudian 19 SPPG sudah bersertifikat halal, 26 SPPG memiliki sertifikat chef, dan 61 SPPG telah terdaftar pada BPJS Ketenagakerjaan.
Jumlah penerima manfaat MBG di Wonogiri juga terus meningkat. Saat ini mencapai sekitar 185 ribu orang.
Rinciannya, 156 ribu siswa dan santri, serta 29 ribu penerima manfaat dari kalangan 3B, yakni balita, ibu hamil dan ibu menyusui.
Ke depan, SPPI menargetkan jumlah SPPG yang beroperasi di Wonogiri bertambah hingga 113 unit pada tahun ini.
Penambahan tersebut diharapkan memperluas jangkauan layanan sekaligus memperkuat pengawasan mutu makanan.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyebut progres SPPG dalam mengantongi SLHS terus menunjukkan peningkatan.
Menurutnya, kepatuhan terhadap SOP dan standar higienitas menjadi kunci agar kasus KLB tidak terulang.
"Dengan SLHS dan menjalankan SOP, program MBG di Wonogiri lebih terkontrol, higienis, lebih bermanfaat dan dapat memenuhi gizi masyarakat," kata Setyo. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono