Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Baru Sepekan Ditinggal Ibunya Merantau, Santri Ponpes di Bulukerto Wonogiri yang Meninggal Tak Wajar Pernah Cerita Kerap Ditendang Temannya

Iwan Adi Luhung • Selasa, 17 Februari 2026 | 16:59 WIB
Proses ekshumasi makan santri ponpes di Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Selasa (17/2/2026).
Proses ekshumasi makan santri ponpes di Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Selasa (17/2/2026).

RADARSOLO.COM- Meninggalnya DRP (9), santri salah satu pondok pesantren (ponpes) di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

Sosok bocah laki-laki yang aktif itu kini tiada. Keluarga juga berharap penyebab kematian DRP bisa diketahui.

Wartawan radarsolo.jawapos.com menemui Teo Setiabudi (29), paman DRP.

Baca Juga: Deretan Kejanggalan Kematian Santri Ponpes di Bulukerto Wonogiri yang sedang Diusut Polisi

Matanya masih sayu. Raut sedih masih nampak jelas bersama rasa kantuk yang dirasakannya.

"Sejak kemarin belum tidur mas," ujar Teo, Selasa (17/2/2026).

Teo hadir di kompleks makam menyaksikan ekshumasi keponakannya.

Penyebab kematian DRP menjadi tanda tanya besar di keluarganya.

DRP diketahui tinggal di rumah bersama dengan Teo, kakek, nenek, kakak perempuan dan adik perempuannya.

DRP tercatat sebagai kelas II SD di sekolah milik yayasan pondok pesantren (ponpes) setempat.

"Ayahnya merantau di Pontianak, ibunya mungkin baru sepekan merantau ke Surabaya. Biasanya ada ibunya di rumah," kata Teo.

Dia menceritakan, saat berangkat sekolah Sabtu (14/2/2026) lalu, keponakannya dalam kondisi sehat.

DRP diketahui tak punya riwayat penyakit tertentu.

Namun, kabar tak menyenangkan tiba pada Sabtu siang.

Antara pukul 12.30-13.00 mobil pengantaran siswa dari sekolah DRP tiba di rumahnya. Adik DRP turun dari mobil tanpa ditemani sang kakak.

"Kata sopir yayasannya, (DRP) waktu itu masuk angin. Dibawa ke klinik di Bulukerto," kata Teo.

Mendengar kabar itu, keluarga langsung ikut menyusul ke klinik tersebut.

Namun, sesampainya di sana, DRP telah terbujur kaku. Keluarga shock atas kenyataan yang terjadi.

"Mangkat sekolah waras-wiris (berangkat sekolah kondisinya sehat). Tapi malah seperti ini. Nggak ada penyakit apapun. Biasanya kalau pilek itu bilang nggak mau masuk sekolah," kata Teo.

Kejanggalan kemudian ditemukan keluarga saat jenazah hendak dimandikan.

Ada bekas darah yang berada di hidung DRP. Mulutnya juga berbusa.

"Ada lebam juga di badannya. Tapi katanya bekas kerokan. Yang bilang pihak sana (ponpes). Saya tahunya satu di sekitar perut," beber dia.

Kemudian saat dimakamkan, saudaranya yang lain melihat ada darah yang keluar. Itu berasal dari bagian kepala DRP. Hal itu semakin membuat keluarga janggal.

Semasa hidup, DRP dikenal sebagai anak yang aktif.

Saat sore hari, kata Teo, kerap kali keponakannya itu mengajak adik perempuannya bermain bola.

"Kan sekolahnya agak jauh dari rumah, kalau bermain sering sama adik perempuannya," terang Teo.

Selain itu, DRP adalah anak yang terbuka kepada ibundanya. Termasuk menceritakan soal apa yang dialaminya di sekolah.

"Pernah cerita sama ibunya ditepang (ditendang) temannya beberapa kali. Ada beberapa orang temannya yang sering begitu. Tapi setelah ibunya ke Surabaya, nggak cerita ke saya atau kakek neneknya," papar dia.

Pihak keluarga berharap, penyebab kematian DRP bisa segera diungkap.

Editor : Tri wahyu Cahyono
#makam dibongkar #bulukerto #desa geneng #santri bulukerto wonogiri meninggal #penyebab santri bulukerto wonogiri meninggal #ekshumasi #wonogiri #santri meninggal