RADARSOLO.COM–Desa Semagar, Kecamatan Girimarto, Wonogiri berhasil membuktikan bahwa limbah ternak yang semula dianggap masalah lingkungan bisa bertransformasi menjadi pundi-pundi rupiah.
Melalui inovasi bertajuk "Srintil Wangi", desa ini sukses mengolah kotoran hewan (kohe) menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.
Inovasi tersebut bahkan berhasil mengantarkan Desa Semagar meraih Juara 3 Kategori Desa/Kelurahan pada ajang bergengsi Wonogiri Innovation Award 2025 lalu.
Ubah Limbah Jadi Sumber Daya
Sekretaris Desa Semagar Tarmo mengungkapkan, inti dari inovasi ini adalah mengubah pola pikir peternak.
Dari yang semula menganggap kotoran ternak sebagai limbah yang bau dan mencemari air, kini beralih menjadi sumber daya yang dioptimalkan.
"Kohe yang diolah menjadi pupuk kompos atau media tanam tidak hanya mengurangi pencemaran, tapi juga menambah penghasilan. Peternak kini tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia yang harganya kian mahal," ujar Tarmo.
Solusi Kerusakan Tanah Akibat Kimia
Lahirnya inovasi "Srintil Wangi" juga didorong oleh keprihatinan atas kondisi lahan pertanian yang kian menurun kualitasnya.
Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun membuat struktur tanah di wilayah setempat mengeras dan miskin unsur hara.
"Pupuk organik dari kotoran kambing atau srintil ini secara perlahan memperbaiki struktur tanah. Hasilnya, produktivitas lahan terjaga untuk jangka panjang dan petani mendapatkan keuntungan ekonomi yang berkelanjutan," imbuh Sekdes.
Dukungan Regulasi dan Kelestarian Lingkungan
Pemerintah Desa (Pemdes) Semagar memberikan dukungan penuh terhadap keberlanjutan inovasi ini.
Baca Juga: BPJS PBI Warga Miskin Sragen Banyak yang Nonaktif, Ketua LPM Sentil Dewan
Salah satunya dengan menerbitkan Perdes No. 4 Tahun 2022 tentang Kelestarian Lingkungan Hidup.
Selain regulasi, Pemdes juga aktif menjalin komunikasi dengan dinas terkait untuk mendatangkan bantuan sarana prasarana pengolahan limbah.
Kini, pupuk "Srintil Wangi" tidak hanya digunakan untuk kebutuhan mandiri warga, tetapi juga telah diproduksi secara komersial oleh kelompok tani setempat.
Produk turunan seperti pupuk kandang dan biofertilizer mulai dipasarkan dan menjadi sektor baru dalam ekonomi kreatif pedesaan di Kecamatan Girimarto. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono