Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ini 6 Tradisi Unik Kaum Boro Wonogiri ketika Pulang Kampung saat Mudik Lebaran

Kabun Triyatno • Kamis, 26 Februari 2026 | 14:20 WIB

Peserta mudik gratis memadati Terminal Tirtonadi pada Lebaran lalu. (M Ihsan/Radar Solo)
Peserta mudik gratis memadati Terminal Tirtonadi pada Lebaran lalu. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Bagi warga Wonogiri, mudik bukan sekadar rutinitas tahunan untuk bertemu keluarga. Ini adalah sebuah "fenomena budaya" kolosal. Sebagai salah satu daerah pengirim perantau terbesar di Indonesia—yang mendominasi sektor bakso dan mi ayam di berbagai penjuru Nusantara—momen Lebaran secara drastis mengubah wajah kabupaten ini menjadi sangat meriah dan penuh energi.

Ingin tahu bagaimana para perantau atau kaum boro ini merayakan kemenangan di tanah kelahiran? Inilah potret kebiasaan unik yang hanya bisa Anda temukan di Wonogiri saat hari raya:

1. Invasi Bus Kolosal di Terminal Giri Adipura

Lebaran di Wonogiri "resmi" dimulai bukan saat sidang isbat, melainkan saat ratusan bus secara bersamaan memasuki Terminal Giri Adipura. Berkat ikatan paguyuban yang sangat kuat, para perantau ini biasanya menyewa bus secara kolektif. Kedatangan rombongan bus dengan spanduk "Mudik Bareng" ini menjadi simbol kekuatan persaudaraan mereka yang tak luntur oleh jarak.

2. Diplomasi Bakso dan Mi Ayam

Lebaran adalah ajang reuni akbar para "maestro" kuliner. Di sela-sela silaturahmi, Anda akan melihat para pedagang dari Jakarta, Sumatera, hingga Kalimantan berkumpul. Mereka tak hanya melepas rindu, tapi juga bertukar info strategi bisnis. Tak jarang, momen ini menjadi ajang rekrutmen informal; pemuda desa diajak untuk "nyantrik" atau ikut merantau guna meneruskan tongkat estafet kesuksesan di kota besar.

3. Tradisi Andum Rejeki dan Balas Budi

Ada kebanggaan tersendiri saat seorang perantau bisa berbagi keberhasilan. Tradisi membagikan uang baru kepada anak-anak dusun dilakukan secara masif. Namun, kontribusi mereka tak berhenti di amplop Lebaran. Banyak perantau yang patungan untuk membangun masjid, mengaspal jalan gang, hingga merenovasi balai desa. Inilah cara mereka memberikan "balas budi" terbaik untuk tanah kelahiran yang telah membesarkan mereka.

4. Wisata Kuliner "Balas Dendam"

Meski setiap hari bergelut dengan makanan enak di perantauan, lidah para pemudik ini tetap merindukan cita rasa asli Wonogiri. Maka, terjadilah fenomena kuliner "balas dendam". Warung-warung lokal yang menyajikan Sego Tiwol, Jangan Lombok Ijo, Pindang Kambing, hingga Besengek mendadak antre panjang. Menariknya, parkiran warung sederhana ini sering kali dipenuhi mobil-mobil berpelat B, F, atau L milik para perantau yang rindu rasa otentik desa.

5. Unyur-Unyur: Silaturahmi Tanpa Celah

Budaya kekeluargaan Wonogiri mengenal istilah Unyur-unyur. Ini adalah tradisi silaturahmi keliling di mana para perantau mendatangi setiap rumah kerabat dalam satu dusun tanpa terkecuali. Di setiap meja tamu, camilan legendaris Kacang Mete Wonogiri yang gurih dan renyah menjadi suguhan wajib yang menemani obrolan panjang tentang masa depan.

6. Ziarah: Kembali ke Akar sebelum Berangkat Lagi

Sebelum kembali bertarung di kerasnya ibu kota, agenda wajib yang tak boleh terlewatkan adalah ziarah kubur. Membersihkan makam leluhur dan mengadakan kenduri (doa bersama) di rumah tertua adalah cara mereka mengingat asal-usul. Ritual ini menjadi bekal spiritual dan pengingat bahwa sejauh apa pun mereka merantau, rumah mereka tetaplah di bawah naungan perbukitan karst Wonogiri.

Jika Anda melintasi Wonogiri saat Lebaran, nikmatilah kemacetan dan keriuhannya sebagai bagian dari perayaan kehidupan. Jangan lupa mencoba mi ayam asli langsung dari daerah asalnya!

 

Editor : Kabun Triyatno
#bakso #lebaran #jakarta #silaturahmi #mudik #kaum boro #perantau #mi ayam #wonogiri