RADARSOLO.COM - Upaya pencarian terhadap Jumali, 50, seorang nelayan asal Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang hilang di perairan laut selatan terus diintensifkan.
Hingga Senin (2/3/2026) siang, tim gabungan yang menyisir sejumlah titik pantai di wilayah Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, belum berhasil menemukan keberadaan korban maupun tanda-tanda baru.
Kapal Ditemukan Hancur Berkeping
Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo membenarkan bahwa tim gabungan kembali melakukan penyisiran ekstensif di area pantai Kecamatan Paranggupito.
Fokus pencarian juga diarahkan ke Pantai Watumandi, yang merupakan lokasi penemuan bangkai perahu bertuliskan Manis Rizky 59 milik korban.
Anom mengungkapkan bahwa kondisi perahu yang sebelumnya sempat tersangkut di karang tersebut kini sudah hancur berkeping-keping akibat hantaman ombak.
Pencarian darat dan laut ini melibatkan sinergi dari berbagai unsur.
Mulai dari Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Paranggupito, BPBD Wonogiri, tim SAR Wonogiri, relawan PMI Pacitan, personel Basarnas, hingga masyarakat pesisir setempat.
Anom merinci bahwa penyisiran dilakukan secara maraton menyusuri sejumlah pantai strategis, di antaranya Pantai Watumandi, Kalimirah, Karangpayung, Waru, Nampu, Sembukan, Klotok, hingga ujung barat di Pantai Ndadapan.
Kronologi Hilangnya Nelayan Trenggalek
Peristiwa hilangnya korban bermula pada Kamis (26/2/2026) saat Jumali bertolak melaut dari Pelabuhan Pantai Watukarung, Kabupaten Pacitan.
Korban berlayar menuju perairan selatan bersama rombongan sembilan perahu lainnya dengan tujuan memancing sekaligus memasang jaring rendet (perangkap) udang lobster.
Baca Juga: Aksi Curi Kotak Amal Rumah Sakit di Solo Terekam CCTV, Pelaku Terancam Lebaran di Penjara
Pada pukul 21.00 WIB, salah seorang rekan sesama nelayan dari perahu berbeda masih sempat melihat pendar cahaya lampu dari kapal korban dari jarak sekitar satu kilometer.
Namun, kecurigaan muncul ketika cahaya lampu tersebut lenyap seketika pada pukul 22.30 WIB.
Menyadari hal janggal, rekan korban bergegas mendekati titik koordinat terakhir perahu tersebut terlihat.
Setibanya di sekitar area rumpon (rumah ikan buatan), baik sosok korban maupun wujud fisiknya perahu sudah lenyap.
Pencarian darurat yang sempat dilakukan selama kurang lebih dua jam di tengah gulita terpaksa dihentikan karena kondisi gelombang laut selatan yang saat itu cukup tinggi dan berbahaya.
Rombongan nelayan lantas memutuskan kembali bersandar ke Pantai Watukarung untuk melaporkan kejadian tersebut kepada sang pemilik perahu.
Informasi darurat mengenai hilangnya nelayan segera disebarluaskan melalui jaringan komunikasi radio kepada seluruh nelayan yang beroperasi di wilayah perairan Pacitan hingga Pantai Sadeng, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Imbauan Kewaspadaan Cuaca
Keesokan harinya, tepatnya pada Jumat pagi, bangkai perahu nahas tersebut akhirnya ditemukan oleh dua orang warga Desa Gudangharjo dalam kondisi terbalik dan terombang-ambing di kawasan Pantai Watumandi, Kecamatan Paranggupito.
Warga yang sebelumnya telah mendengar informasi broadcast mengenai nelayan hilang dari Pacitan, segera melaporkan temuan krusial tersebut kepada pihak kepolisian melalui anggota jaga Polsek Paranggupito serta pemilik kapal yang bersangkutan.
Menyikapi insiden laka laut ini, AKP Anom Prabowo mengimbau seluruh masyarakat pesisir dan nelayan tradisional agar selalu meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap kondisi perubahan cuaca ekstrem dan tingginya gelombang laut selatan.
Pihak kepolisian juga meminta kerja sama warga untuk segera melapor kepada petugas terdekat apabila sewaktu-waktu menemukan petunjuk atau benda-benda mencurigakan yang mengarah pada tanda-tanda keberadaan korban. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono