Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tradisi Sambatan, Cara Orang Wonogiri Menjaga Warisan Leluhur Agar Tidak Menjadi Asing

Kabun Triyatno • Rabu, 4 Maret 2026 | 17:34 WIB

Ilustrasi AI Generated/Chat GPT
Ilustrasi AI Generated/Chat GPT

RADARSOLO.COM - Pagi buta di sebuah dusun di kaki perbukitan Bulukerto, Wonogiri, udara dingin masih menusuk tulang. Namun, kepulan asap dari dapur Mbah Dinah sudah membumbung tinggi. Aroma kopi tubruk dan singkong goreng mulai menyerbak, bercampur dengan suara riuh rendah langkah kaki pria-pria berbaju kumal yang membawa cangkul dan palu di tangan.

Tidak ada amplop cokelat berisi gaji, tidak ada kontrak kerja di atas kertas. Mereka datang hanya karena satu kalimat pendek yang menyebar dari mulut ke mulut semalam suntuk: "Sesuk sambatan neng nggone Pak Darmo, nggih?" (Besok bantu-bantu di tempat Pak Darmo, ya?).

Baca Juga: Bak Pinang Dibelah Dua: Mengapa Wonogiri dan Gunungkidul Disebut 'Saudara Kembar' yang Terpisah Provinsi, Ini 8 Kesamaannya

Inilah Sambatan, sebuah fragmen kehidupan asli Wonogiri yang menolak punah. Di saat dunia luar mulai menghitung segala sesuatu dengan nominal rupiah, di "Kota Gaplek" ini, tenaga dan keringat masih menjadi mata uang persaudaraan yang paling berharga.

Lebih dari Sekadar Kerja Bakti

Bagi masyarakat Wonogiri, Sambatan adalah ruh dari kerukunan. Jika Anda melihat puluhan orang bahu-membahu menaikkan kuda-kuda kayu rumah limasan atau mengecor dak beton dalam sehari semalam, itulah puncak dari aksi Sambatan.

"Kalau dibangun sendiri pakai tukang borongan, mungkin butuh jutaan rupiah hanya untuk tenaga. Tapi dengan Sambatan, beban itu luruh. Kami hanya perlu menyiapkan makan dan wedang," ujar salah satu warga lokal. Di sini, filosofi “mangan ora mangan kumpul” bergeser menjadi “nyambut gawe bareng, mangan bareng”.

Baca Juga: Surga Bahari yang Tersembunyi: Intip 10 Pantai Hidden Gem Wonogiri untuk Rehat dari Hiruk Pikuk Kota

"Rewang": Dapur yang Tak Pernah Padam

Sisi lain dari Sambatan adalah Rewang. Jika bapak-bapak berkutat dengan semen dan kayu di halaman depan, maka ibu-ibu berkuasa di dapur. Tanpa diminta, para tetangga perempuan akan datang membawa pisau dan talenan sendiri. Mereka mengupas gunung sayuran, menumbuk bumbu, hingga mencuci tumpukan piring kotor bekas tamu.

Di dapur Rewang inilah, informasi desa berputar, tawa pecah, dan ikatan batin antar-perempuan desa diperkuat. Rewang adalah bukti bahwa sistem jaminan sosial di Wonogiri sudah ada jauh sebelum asuransi modern ditemukan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kota Bakso, Intip 6 Desa Kreatif di Wonogiri: Dari Kampung Dinamo hingga Seni Pahat Wayang

Menantang Arus Zaman dan Budaya "Boro"

Tentu saja, jalan tradisi ini tak selalu mulus. Fenomena merantau atau Boro yang menjadi ciri khas warga Wonogiri membuat desa-desa seringkali kehilangan tenaga muda. Banyak pemuda yang lebih memilih mengadu nasib di Jakarta daripada bergelut dengan lumpur di desa.

Namun, masyarakat Wonogiri punya cara unik untuk beradaptasi. Kini, undangan Sambatan tak lagi hanya lewat ketukan pintu, tapi juga melalui notifikasi grup WhatsApp RT. Meski raga para pemuda ada di perantauan, mereka seringkali tetap berkontribusi dengan mengirimkan "uang kopi" untuk mendukung konsumsi para warga yang melakukan Sambatan di desa.

Baca Juga: Bukan Sekadar Rasa, Tapi Cerita: Menemukan Jiwa Wonogiri Melalui 12 Kuliner Otentiknya

Sebuah Warisan yang Tak Ternilai

Sambatan di Wonogiri adalah pengingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang paling paripurna saat saling membantu. Ia adalah benteng terakhir melawan sikap individualisme yang kian merayap ke pedesaan.

Selama kepulan asap dapur "Rewang" masih terlihat dan suara canda tawa bapak-bapak saat mengecor rumah masih terdengar, maka jati diri Wonogiri sebagai daerah yang guyub rukun akan tetap abadi. Karena di Wonogiri, rumah tidak dibangun hanya dengan semen dan bata, tapi dengan doa dan keringat tetangga. (*)

Editor : Kabun Triyatno
#sambatan #kerja bakti #kerukunan #wonogiri #dapur #rewang