RADARSOLO.COM-Keluarga Apriyan (32) warga Lingkungan Sawit RT 02 RW 06 Kelurahan Gemawang Kecamatan Girimarto, sosok yang ditemukan meninggal dunia dengan luka tusukan di leher menduga bahwa pria itu bunuh diri.
Hal tersebut disampaikan istri korban Kurnita Ambarsari, Sabtu (4/4/2026).
Dugaan itu dikarenakan sejumlah hal, mulai dari kondisi kesehatan korban beberapa waktu belakangan hingga adanya pinjaman online (pinjol) senilai belasan juta.
Baca Juga: RASOHISTORI, 4 April 2012: Persis Solo vs PSS Sleman, Drama 6 Gol Berakhir dengan Penuh Ketegangan
Wanita yang akrab disapa Ambar itu menceritakan kronologi sebelum suaminya ditemukan tak bernyawa di kebun belakang rumah kerabatnya yang berjarak sekira 50 meter dari kediamannya.
Pada Rabu (1/4/2026) pagi, Apriyan biasa berangkat kerja bersama Ambar.
"Saat itu saya tanya mau berangkat sendiri. Tapi ternyata tidak jadi berangkat kerja, ke rumah orang tuanya," terang Ambar didampingi sejumlah keluarga dan Ketua RW setempat.
Sekira tiga bulan lalu, Apriyan sempat mengeluhkan sakit. Sebelumnya ada kabar bahwa korban menderita hernia, namun hal itu dibantah Ambar.
"Diperiksakan nggak ada apa-apa. Sakit perutnya. Setelah itu dipijatkan terus sudah sembuh. Sempat minum obat karena sempat juga saat buang air kecil, alat kelaminnya rasanya panas. Habis dari rumah sakit sudah sembuh. Tapi kemarin sebelum kejadian kondisinya terlihat sehat," kata dia.
Saat Apriyan di rumah orang tuanya, Ambar mengaku bahwa Apriyan sempat mengirim pesan WhatsApp (WA) bahwa tak jadi berangkat kerja karena merasa badannya dingin.
Baca Juga: Dokter-Dokter Legendaris (Part 2): Sardjito, Dokter Pendidik yang Membangun Fondasi Kesehatan Bangsa
Setelah itu, sempat juga Apriyan mengirimkan pesan yang intinya berterima kasih karena sudah menemani selama ini.
"Tapi saya tidak ada kecurigaan apapun. Sebab dulu juga pernah bilang, sebelum sakit tiga bulan lalu itu," kata dia.
Lalu pada Rabu sore sekira pukul 16.30, kata Ambar, Apriyan pulang ke rumah.
Kepada sang anak, Apriyan menanyakan apakah sudah jajan. Usai dijawab belum, dibelikanlah es krim untuk sang anak.
"Habis beli es krim biasa ngobrol dengan ibu saya. Saya masak di dapur dan kemudian makan terus duduk di kursi. Habis itu mau ada acara yasinan di tetangga. Ditanya tetangga berangkat tidak, katanya tidak tahu," papar Ambar.
Sekira pukul 18.30, keluarganya pergi untuk mengikuti yasinan. Ternyata Apriyan tak ikut dalam acara itu.
Saat keluarganya pulang sekira pukul 21.30, Apriyan tak diketahui keberadaannya.
"Saat saya pulang HP dan dompetnya di kamar. Rokok di atas lemari, sepeda sudah dimasukkan dan kunci di teras luar. Setelah itu saya sempat cari di dalam rumah tidak ketemu. Anak juga bingung mencari juga," beeber dia.
Keluarganya sempat mengira bahwa Apriyan pergi ke rumah temannya.
Namun ternyata hingga Kamis (2/4/2026) pagi Apriyan masih belum pulang. Upaya pencarian kemudian dilakukan keluarga bersama warga.
Keluarga juga sempat mendatangi rumah teman Apriyan dan ternyata tak diketahui keberadaannya.
Sempat sebelumnya kerabatnya melihat ceceran darah di kandang belakang rumah saudaranya.
Namun saat itu jenazah korban belum diketahui. Sandal Apriyan juga sempat dibawa ke rumahnya.
Hingga akhirnya salah satu keluarga korban menemukannya di kebun belakang rumah kerabatnya yang berjarak tak terlalu jauh dari kediaman korban.
Warga saat itu langsung mengurus jenazah Apriyan yang ditemukan dengan luka tusukan di leher. Hal itu juga dilaporkan ke kepolisian.
Menurut Ambar, suaminya tak memiliki masalah dengan orang lain.
Namun, suaminya memiliki permasalahan ekonomi. Dimana suaminya memiliki utang.
"Kalau ditanya masalah utang itu katanya tidak terlalu dipikirkan. Tapi kemarin sempat sakit di punggung, pusing hilang sendiri. Yang dikeluhkan itu. Sudah saya tawari untuk periksa ke dokter tidak mau, katanya nanti daripada terlalu panjang tidak bisa kerja malah kontrol," beber dia.
Disinggung terkait masalah utang yang dimiliki Apriyan, Ambar menuturkkan belum ada penagihan yang dilakukan sampai ke rumah.
Apriyan diketahui memiliki utang sekira Rp 15 juta di salah satu platform pinjol dengan menunakan identitas Ambar. Pinjaman itu baru diangsur lima kali.
Menurut Ambar, sang suami tak pernah menceritakan soal tekanan yang didapat dari pihak aplikasi pinjol.
Sempat juga utang itu jatuh tempo dan belum dibayarkan. Sehingga muncul denda keterlambatan.
Lalu untuk apa pinjaman itu digunakan?
"Yang saya ketahui pinjaman itu untuk beli motor. Sebab perlu untuk kerja," kata dia.
Atas hal-hal itu, Ambar dan keluarganya meyakini bahwa Apriyan tidak dibunuh. Namun, sengaja mengakhiri hidup.
Selain itu, pihak keluarga juga sempat mendapatkan informasi soal hasil pemeriksaan jenazah Apriyan.
Baca Juga: Apakah Senin 6 April 2026 Libur Usai Long Weekend Paskah? Cek SKB 3 Menteri Terbaru di Sini
"Kalau hasil pemeriksaan indikasinya mengakhiri hidup, tidak ada (indikasi) pembunuhan. Tapi kalau hasil autopsi belum turun," kata dia.
Sementara itu, ada informasi yang menyebutkan bahwa selain luka tusuk di leher, ada juga luka sayatan di tangan.
Ambar mengatakan, ibunya melihat bekas seperti luka sayatan di tangan kiri Apriyan. Namun, tak ada darah dari sayatan itu.
Yang jelas ada darahnya di leher sebelah kiri bekas tusukan. Keluarga pun meyakini bahwa Apriyan mengakhiri hidup
"Soalnya disini juga tidak ada musuh," kata dia.
Meski demikian, Ambar menuturkan, suaminya sebelumnya tak pernah menginjakkan kaki di lokasi tempat ditemukannya tak bernyawa.
Dia menduga, ada bisikan gaib yang membuat suaminya mengakhiri hidupnya di lokasi itu.
"Dulu bertahun-tahun lalu di sekitar itu juga ada yang pernah gantung diri. Sudah lama. Kalau menurut saya ada yang ngojok-ojoki (menyuruh) yang nggak kelihatan itu, sebab orangnya takut. Kirim genting pulang pukul 23.00, nggak berani pulang ke sini, pilih tidur di rumah orang tuanya," kata dia.
Soal pisau yang ditemukan di sekitar jenazah korban, Ambar mengamini bahwa pisau itu adalah pisau dapur di rumahnya.
Keluarganya menduga, pisau itu sempat diasah sebelum digunakan.
"Pisau di dapur dua. Yang satu saya gunakan masak, satunya enggak. Yang saya pakai masak itu ada di meja. Yang mungkin dibawa itu tidak di meja," pungkas Ambar.
Sementara itu, Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo saat dimintai tanggapan terkait pendapat keluarga Apriyan yang meyakini bahwa korban mengakhiri hidup mengatakan bahwa pihaknya menunggu hasil pemeriksaan resmi atau tertulis.
"Kita menunggu hasil tertulis dari dokfor Polda," terangnya. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono