Pertanian dengan sistem hortikultura di Selogiri, Wonogiri. (IWAN ADI/RADAR SOLO)RADARSOLO.COM - Kemarau panjang yang diprediksi melanda wilayah Wonogiri pada tahun ini menjadi tantangan serius bagi stabilitas produktivitas tanaman pangan.
Menghadapi ancaman penurunan debit air, para petani didorong mengambil langkah adaptif dengan mengalihkan sebagian lahan mereka ke komoditas hortikultura guna menjaga keberlangsungan penghasilan di musim kering.
Diversifikasi Komoditas Lebih Adaptif
Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Wonogiri Dwi Sartono mengingatkan, peringatan dini dari BMKG harus disikapi secara taktis oleh para petani. Terutama bagi pemilik lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.
Mengingat luas tanam padi berisiko menyusut drastis saat kemarau ekstrem, penanaman komoditas seperti melon, semangka, cabai, dan sayuran menjadi opsi yang lebih rasional karena karakteristiknya yang lebih tahan kekeringan serta memiliki masa tanam yang relatif singkat.
"Kalau kemaraunya panjang, luas tanam dan panen padi berkurang. Dengan begitu, lahan tetap produktif dan petani juga punya penghasilan," ujar Dwi Sartono menjelaskan urgensi diversifikasi tanaman tersebut.
Dampak El Nino terhadap Produksi Padi
Kepala Dinas Pertanian Wonogiri Baroto Eko Pujanto menuturkan, fenomena El Nino tahun ini diprediksi membuat kemarau datang lebih awal, lebih panjang, dan dengan suhu yang lebih panas.
Kondisi ini secara langsung akan memberikan tekanan pada angka produksi padi daerah yang pada tahun 2025 sempat mencapai luas tanam 68.762 hektare dengan total produksi sekitar 359.000 ton.
"Berpotensi menurunkan luas tanam padi yang berdampak pada produksi," kata Baroto.
Penurunan luas tanam tersebut diperkirakan mulai terasa secara signifikan pada bulan Mei 2026 seiring dengan berkurangnya ketersediaan air irigasi di berbagai wilayah.
Optimalisasi Teknologi dan Sumber Air
Baca Juga: 10 Perusahaan di Jawa Dikabarkan Siap-siap PHK Massal, Sektor Apa Saja? Ini Bocoran Serikat Pekerja
Sebagai langkah mitigasi teknis, Dinas Pertanian Wonogiri telah mengeluarkan sejumlah imbauan strategis agar petani tetap bisa beroperasi secara efektif.
Selain penghematan air irigasi, penggunaan benih padi varietas super genjah serta percepatan mekanisasi dalam pengolahan tanah dan panen menjadi kunci untuk meminimalkan risiko gagal panen.
Selain itu, Baroto mendorong pemanfaatan infrastruktur air yang sudah ada agar lebih optimal.
"Juga bisa memanfaatkan sumber air alternatif melalui sistem irigasi perpipaan dan perpompaan," tambahnya.
Melalui kombinasi antara peralihan ke tanaman hortikultura dan penerapan teknologi pengairan yang efisien, sektor pertanian Wonogiri diharapkan tetap tangguh menghadapi anomali cuaca yang terjadi. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono