Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

 Kartini Masa Kini: Sri Rahayuningsih, Istri Wakil Bupati Wonogiri Setyo Sukarno "Emansipasi Bergeser: Dari Hak Belajar ke Ketahanan Keluarga"

Iwan Adi Luhung • Selasa, 21 April 2026 | 15:57 WIB
TEBAR MOTIVASI: Bunda Literasi Wonogiri Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno memberikan semangat kepada siswa-siswi SD dalam sebuah kunjungan. (DOK. PEMKAB WONOGIRI)
TEBAR MOTIVASI: Bunda Literasi Wonogiri Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno memberikan semangat kepada siswa-siswi SD dalam sebuah kunjungan. (DOK. PEMKAB WONOGIRI)

RADARSOLO.COM - Bagi Sri Rahayuningsih -Istri Bupati Wonogiri Setyo Sukarno- sosok R.A. Kartini bukan sekadar simbol kebaya setiap April. Kartini adalah representasi keberanian perempuan untuk maju tanpa meninggalkan akar budaya.

"R.A. Kartini adalah sosok pendobrak penghalang atau pembatas permpuan pada masanya. Sosok emansipasi wanita," tegas wanita yang akrab disapa Yayuk tersebut kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dia menilai perjuangan perempuan belum selesai, hanya bentuknya yang berubah. Jika dulu soal akses pendidikan, kini bergeser pada kemampuan menyeimbangkan peran di tengah tuntutan zaman.

"Tantangannya sekarang lebih kompleks, terutama dalam menjaga peran sebagai ibu di era digital," ujarnya.

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Bupati Sukoharjo Etik Suryani, Menjadi "Ibu" bagi Rakyatnya

Di wilayah Solo Raya, dia melihat tantangan tersendiri diantaranya bagaimana perempuan bisa berkarya di luar rumah tanpa stigma mengabaikan keluarga. Menurutnya, kunci ada pada manajemen waktu dan keseimbangan nilai budaya.

Dalam menjalani berbagai peran, ia menerapkan prinsip 'berganti topi'. Saat di lapangan, dia fokus sebagai pelayan masyarakat. Saat di rumah, dia kembali menjadi istri dan ibu. Meski demikian, saat ini prioritasnya adalah jadwal yang sudah dibuat stafnya atau ajudan. "Sekarang saya tidak bisa sakpenake dewe. Ikut ritme yang ada," tuturnya.

Yayuk juga memegang prinsip untuk hidup dengan ikhlas. Sebab dengan keikhlasan semuanya bisa baik-baik saja. Yayuk berpesan agar para wanita di Wonogiri bisa optimal dalam menjaga keluarga. Utamanya menjaga anak di era digital.

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Profil Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana, Mengayomi dan Perjuangkan Nasib Perempuan Desa

Tantangan yang belakangan terasa menurutnya adalah bombardir pinjaman online (pinjol) ilegal hingga judi online (judol). Dia ingin agar para wanita bisa ikut menghentikan itu.

"Banyak wanita yang terjerat pinjol. Seperti Pak Bupati menyampaikan agar masyarakat bisa bebas pijol. Bisa ke bank atau lembaga keuangan legal terpercaya saat mengajukan pinjaman. Lembaga keuangan resmi bisa kok memberikan pinjaman lunak kepada ibu rumah tangga. Tapi karena penginnya cepat bisa terjerat seperti itu," papar Yayuk.

Hal itu menurutnya menjadi catatan penting. Sebab saat di rumah atau terjun ke masyarakat, dia banyak menerima cerita dan keluhan dari warga terkait hal tersebut.

Dia juga berpesan kepada generasi muda untuk berani bermimpi besar, mandiri, dan tetap membumi. Agar jangan meninggalkan nilai agama dan tata krama. Jika Kartini hidup hari ini, dia yakin sang tokoh akan fokus pada literasi teknologi dan kemandirian ekonomi perempuan, sekaligus tetap memperjuangkan pendidikan dan gizi anak sebagai fondasi masa depan.

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Fahrani Eka, Istri Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo "Perempuan Harus Berani Speak Up"

Yayuk punya dua orang anak laki-laki. Apakah ada pesan khusus terkait dengan perempuan kepada dua anak laki-lakinya yang mungkin juga menjadi pesan ke masyarakat?

"Saya selalu menekankan kepada mereka berdua selalu menghargai perempuan. Jangan main-main dengan perempuan, saya tegaskan 'ibumu wong wedok lho'. Saya tidak akan pernah mengizinkan mereka bermain-main dengan perempuan," pungkas Yayuk. 

Menyentuh Akar Persoalan Perempuan hingga ke Desa

Aktivitas Yayuk -sapaan akrab Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno- kini lebih banyak dihabiskan di lapangan. Rutin turun ke desa-desa mendampingi kader PKK, memantau posyandu, hingga mendorong percepatan penurunan stunting. Namun, dari sekian banyak kegiatan, yang paling dinikmati adalah saat berdialog dengan pelaku UMKM perempuan. Latar belakangnya sebagai pengusaha membuat komunikasi terasa lebih 'nyambung'.

"Cerita mereka tentang modal, pemasaran, sampai mengatur uang dapur itu sangat dekat dengan pengalaman saya," ujarnya.

TEBAR KEBAHAGIAAN: Bupati Wonogiri Setyo Sukarno bersama sang istri Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno dalam sebuah acara. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
TEBAR KEBAHAGIAAN: Bupati Wonogiri Setyo Sukarno bersama sang istri Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno dalam sebuah acara. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Di lapangan, Yayuk mengaku kerap menemukan ketangguhan perempuan desa yang memikul peran ganda. Perempuan yang bekerja sekaligus mengurus keluarga. Hal itu justru menjadi sumber inspirasi tersendiri.

Momen paling menyentuh baginya adalah saat melihat perubahan nyata, seperti balita yang mulai sehat setelah pendampingan gizi. "Melihat mereka tersenyum, lelah perjalanan ke lokasi langsung hilang," terangnya.

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, "Perempuan Tangguh Itu Berani Melangkah"

Yayuk juga kerap menjadi tempat curhat warga. Mulai dari harga kebutuhan pokok hingga biaya pendidikan anak. Perannya tak hanya sebagai pendengar, tapi juga jembatan aspirasi ke program pemerintah.

Menurutnya, dampak besar sering lahir dari hal sederhana, seperti edukasi pola asuh di posyandu. Menurut dia, dari obrolan kecil itu sebenarnya sedang menyelamatkan satu generasi. Meski demikian, tantangan terberat adalah mengelola ekspektasi masyarakat di tengah keterbatasan. Dia harus menyampaikan realitas tanpa mengecewakan warga.

Saat lelah, dia memilih kembali ke keluarga sebagai “tempat recharge”. Baginya, keluarga adalah sumber energi utama untuk kembali menjalankan pengabdian. Dia juga meluruskan anggapan bahwa perannya hanya seremonial. "Di balik itu ada kerja nyata, strategi, dan turun langsung ke lapangan," tandasnya. (al/nik)

‎Dari Didikan 'Prihatin' hingga Ruang Pengabdian yang Lebih Luas

‎Di balik perannya sebagai figur publik, sosok Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno tumbuh dari tempaan kehidupan sederhana yang sarat nilai kedisiplinan dan kerja keras. Didikan ketat sejak kecil membentuknya untuk mandiri dan berdikari.

‎Wanita yang akrab disapa Yayuk itu bercerita, dia tumbuh besar di era ketika anak-anak dididik untuk 'prihatin'. Itu jauh dari kemudahan instan seperti saat ini. Nilai-nilai seperti tata krama, gotong royong, hingga kemandirian menjadi fondasi kuat yang membentuk karakternya.

‎‎"Perempuan harus luwes sekaligus tangguh. Orang tua saya juga usaha. Sejak kecil sudah diajak ikut ritme orang tua. Ini juga mengajari saya ketegasan," ujar Yayuk.

SUMBANGSIH: Ketua TP PKK Kab. Wonogiri Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno saat memberikan sambutan. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
SUMBANGSIH: Ketua TP PKK Kab. Wonogiri Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno saat memberikan sambutan. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

‎‎Yayuk lebih dahulu ditempa di dunia wirausaha untuk mengasah mentalnya. Lewat usaha UD Rahayu yang dirintis dari nol, dia belajar menghadapi krisis, mengelola usaha, hingga memahami berbagai karakter manusia. Pengalaman itu menjadi bekal penting saat kini harus memimpin dan terjun langsung ke masyarakat.

‎‎"Dunia usaha mengajarkan saya terkait tidak pernah menyerah. Coba cari solusi ketika menghadapi jalan buntu," beber Yayuk.

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Profil Venessa Winastesia, Istri Wali Kota Solo Respati Ardi, Sosok Introvert Yang Ikhlas Mengabdi Untuk Masyarakat

‎‎Yayuk menyebut titik balik hidupnya bukan peristiwa instan, melainkan proses panjang ketika tanggung jawab keluarga meluas menjadi tanggung jawab sosial untuk masyarakat Wonogiri. Perubahan paling terasa sejak menjadi figur publik adalah berkurangnya ruang privat dan padatnya agenda.

‎‎"Waktu saya sekarang sebagian besar milik masyarakat. Belum begitu terasa saat Pak Setyo di DPRD, tapi setelah menjadi cabup dan sekarang bupati, perubahan sangat terasa," terangnya.

‎‎Diakui Yayuk, itu menjadi tantangan berat di awalnya. Membagi peran sebagai ibu, pengusaha, sekaligus pendamping kepala daerah. Dia menggambarkan masa awal itu seperti 'memegang banyak piring sekaligus'.

‎Soal membagi waktu, dia kini tak kesulitan. Apalagi kini ada staf yang membantunya mengatur jadwal sebagai ketua TP PKK Wonogiri, Bunda PAUD dan juga Bunda Literasi Wonogiri.

‎Meski demikian, Yayuk menegaskan tidak pernah kehilangan jati diri. "Bukan hilang, tapi kapasitas diri saya yang bertambah," bebernya.

BERDEDIKASI: Bupati Wonogiri Setyo Sukarno bersama sang istri Sri Rahayuningsih. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
BERDEDIKASI: Bupati Wonogiri Setyo Sukarno bersama sang istri Sri Rahayuningsih. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

‎Dalam keseharian, dia tetap menjalani peran sederhana sebagai ibu dan nenek, yang sesekali masih memantau usaha. Prinsip hidup yang selalu dipegangnya adalah keikhlasan dan tanggung jawab, serta menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan.

‎Momen yang membekas saat bersama Setyo Sukarno sejak 1990 diantaranya adalah suasana saling menguatkan. Yayuk menuturkan dia tak bisa berdiri tegak jika tak bersama Setyo, dan begitupun sebaliknya.

‎"Saat kami menikah, kami memulai dari nol. Saya buka UD Rahayu dan Pak Setyo dulu menjadi guru. Itu membuat kami saling ketergantungan. Selama menikah, saya belum pernah dimarahi. Pak Setyo sosok yang mencintai keluarganya. Kalau sudah dengan anak cucu, luar biasa sayangnya," tuturnya. (al/nik)

PROFIL SRI RAHAYUNINGSIH 

- TTL : Wonogiri 29 Agustus 1973

- Alamat : Duwet Kidul RT2 RW15, Baturetno,Wonogiri

- Pendidikan : SLTA (Regina Pacis Surakarta)

- Pekerjaan : Perdagangan

- Jabatan :

1. Ketua TP PKK Kab. Wonogiri

2. Ketua Dekranasda Kab. Wonogiri

3. Bunda PAUD Kab. Wonogiri

4. Bunda Literasi Kab. Wonogiri

5. Penasehat DWP Kab. Wonogiri

6. Bunda GenRe Kab. Wonogiri

Editor : Niko auglandy
#Sri Rahayuninsih #Kartini #setyo sukarno