RADARSOLO.COM-Di tengah pedesaan Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Wonogiri, ada pemandangan mencolok di sebidang lahan.
Ada bangunan yang bentuknya nyaris menyerupai bus. Lengkap dengan kaca, spion, hingga roda yang ditanam di bagian bawah.
Bangunan unik di itu ternyata difungsikan sebagai rumah. Pemiliknya adalah Supardi, warga setempat.
Tak hanya satu, namun ada dua bangunan menyerupai bus yang terparkir.
Warnanya abu-abu, warna dari semen yang belum tersentuh plesteran aci.
Pengamatan radarsolo.jawapos.com, kaca bangunan itu juga didesain seperti kaca bus. Ditempatkan di bagian depan dan samping kanan maupun kiri.
Spion berbahan semen juga melengkapi penampilan rumah itu.
Dua bangunan itu saling terhubung. Menjadikan bagian dalam rumah menjadi fungsional.
"Bus" yang ada di sisi timur berukuran lebih besar. 'Bus double decker' di sisi timur memiliki panjang 13 meter, lebar 3 meter dan tinggi 5 meter.
Dimensi itu mendekati ukuran bus Scania K-410 dengan panjang 13,5 meter, lebar 2,5 meter dan tinggi 4 meter.
Sementara bangunan yang lebih kecil memiliki panjang 8 meter, lebar 2,5 meter dan tinggi 4 meter.
Rumah berbentuk bodi bus ini berlokasi tak jauh dari SMPN 2 Jatipurno. Ditempati oleh Supardi bersama istri dan dua anaknya.
Terkait inspirasi membuat bangunan, Supardi yang akrab disapa Bagong merealisasikan apa yang ada di pikirannya.
"Sebelum Ramadhan kemarin bangunnya. Sekira Februari. Digarap sekira enam pekan," ujar Bagong seraya menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas.
Baca Juga: 5 Alasan Kegagalan Digital Campaign dalam Membangun Engagement Awal yang Sering Diabaikan
Di dalam hunian itu juga sudah terisi kursi dan juga kipas angin. Di bagian belakang 'bus' terdapat satu kamar mandi, dapur, dan dua kamar tidur.
Supardi adalah pelanggan setia Bus Agra Mas sejak 2004. Mengantarkannya bekerja sebagai pemborong di perantauan.
Sempat pulang kampung saat pagebluk korona dan berjualan mi ayam, kini dia masih merantau saat ada panggilan proyek.
Ide membangun hunian berbentuk bus itu belum setahun hinggap di pikirannya.
Bagong punya keinginan agar rumahnya berbeda dengan rumah-rumah lainnya.
Baca Juga: Dramatis! Induk Dan Anak Sapi Di Sukoharjo Selamat Setelah Melahirkan Lewat Operasi Sesar
Diawali dengan membuat tiruan bodi bus dari gypsum. Kemudian, Bagong membeli miniatur bus Agra Mas yang menjadi contoh bangunan rumahnya saat ini.
Bagong sudah merogoh kocek setidaknya Rp160 juta untuk membangun rumah tersebut. "Rp35 juta untuk tanahnya. Kalau untuk membangun sudah Rp125 juta," kata dia.
Salah satu yang boros adalah besi untuk tulang bangunan. Sementara itu, ban yang digunakan adalah ban truk karena dia kesulitan mendapatkan ban bus.
Ban itu dipasangkan di 'velg' beton. Tak sendiri, dia dibantu beberapa tukang lain untuk mewujudkan impiannya.
Menurut Bagong, rumah itu belum rampung sepenuhnya. Belum difinishing dan dilengkapi interior lainnya.
Apakah sudah berkomunikasi dengan pihak Agra Mas? Supardi mengatakan belum meminta izin kepada pihak Agra Mas terkait dengan pembangunan rumahnya yang mirip bus milik perusahaan otobus setempat.
Jika memang Agra Mas tidak mengizinkan penggunaan nama dan corak bus di rumahnya, Bagong tak keberatan mengubah desain awal huniannya.
"Boleh atau tidak nanti rencana mau izin dulu, kalau tidak izin, saya nanti salah. Kalau tidak boleh, saya desain bus lain yang mengizinkan. Rencana mau ke PO lokal, tapi dengan syarat diizinkan. Finishing-nya rencana seperti miniatur Agra Mas ini," papar dia sambil menunjukkan miniatur bus Agra Mas.
Bagong mengaku sudah menempati rumah itu saat Lebaran lalu.
Dia juga mengaku bahwa sejumlah orang mempertanyakan niatannya membangun rumah berbentuk bus. Sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang.
Namun Bagong tak ambil pusing. Rumah tetap dibangun sesuai desain awal dan hasilnya menjawab omongan orang yang mempertanyakan keputusannya.
"Saat sudah berdiri mereka bilang bagus juga. Awalnya mungkin ada yang menyepelekan, tapi akhirnya juga mendukung. Lingkungan sini juga senang," kata dia.
'Bus' itu juga sudah menjadi tempat berkumpul warga setempat. Saat pertemuan rutin setiap malam Minggu Pahing, warga memanfaatkan ruangan yang ada di sana.
Maklum, Bagong merupakan ketua Rt setempat sehingga rumahnya menjadi lokasi pertemuan warga.
Soal tulisan yang ada di bagian bus seperti 'BG 02' dan 'BG 07' juga punya arti. Itu menunjukkan nama panggilan Supardi yang akrab disapa bagong atau BG.
Sementara angka 02 dan 07 menunjukkan RT dan RW wilayah setempat.
"Untuk pelat nomornya bisa diartikan angka atau bisa dibaca Bagong," kata dia.
Supardi juga berencana untuk memoles rumah itu lebih seperti bus. Salah satu rencananya adalah menambbahkan setir bus lengkap dengan dashboard-nya.
"Pintunya juga rencana mau bikin seperti pintu bus, saat dibuka ada tangga yang keluar. Tapi masih mikir sistem engselnya. Kalau pintu besi kan bisa buat, dilas. Insya Allah mau saya buat seperti itu," kata dia.
Interiornya akan didesain seperti bus. Termasuk di bagian plafon dan lampunya. Selain itu, ada rencana pemasangan AC supaya suhu ruangan dingin.
Namun, itu semua masih dalam tahap rencana, Bagong masih mencari uang untuk membangunnya.
Disinggung soal biaya yang mungkin masih dibutuhkan untuk pembangunan rumahnya, Bagong memperkirakan masih butuh biaya setidaknya Rp 70 juta hingga rumah itu rampung.
Meski baru sekira 60 persen rampung, 'bus' itu menjadi naungan bagi keluarga Supardi. Melindungi keluarganya dari terik matahari dan juga hujan. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono