RADARSOLO.COM - Dugaan pelecehan terhadap siswi SMP di Wonogiri dengan tersangka, J, 55, guru olahraga sekolah setempat memantik reaksi Ketua DPRD Wonogiri Sriyono.
Dia menilai perlu dibangun sistem pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah agar kasus serupa tidak terus berulang.
"Kalau kita pakai cara yang normatif saja, kelihatannya sangat berat menyelesaikan masalah itu," tegas Sriyono, Rabu (6/4/2026).
Baca Juga: Polwan Polres Sragen Ini Punya Jurus Humanis Bentengi Generasi Muda dari Narkoba
Menurut dia, saat kondisi sudah mengancam hingga ada indikasi perilaku menyimpang, Pemkab dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri harus membuat formulasi khusus agar permasalahan ini tak terjadi lagi.
"Sudah bertahun-tahun seperti ini tapi tidak ada solusi. Saya kira ini seperti fenomena gunung es (hanya terlihat puncaknya). Ini yang terungkap, yang di bawah bagaimana? Jangan sampai ada lagi di sekolah umum atau pondok terjadi," tegas Sriyono.
Ditambahkan Sriyono, formulasi khusus itu harus dibahas bersama. Sehingga benar-benar efektif menihilkan kasus serupa.
"Sistemnya perlu dibangun. Kalau tidak dibangun, sulit," kata dia.
DPRD juga mendorong Pemkab Wonogiri mengalokasikan anggaran untuk sosialisasi dan pendidikan pencegahan pelecehan di sekolah mulai tahun ini.
"Saya pikir kalau yang diedukasi langsung kepada para siswa akan lebih bagus. Mereka jadi tahu seperti apa pelecehan seksual itu, dan bagaimana mencegahnya," beber dia.
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Wonogiri Azalea Puteri Utami mengapresiasi keberanian para siswi yang mulai berbicara dan melaporkan dugaan pelecehan yang mereka alami.
Azalea mengaku prihatin sekaligus sedih atas kasus yang menimpa para korban.
"Tindakan tidak pantas yang dilakukan pelaku kan memang diduga sudah berlangsung selama bertahun-tahun," ungkapnya.
Bahkan, Azalea mengaku pernah mengalami perlakuan serupa oleh J saat masih menjadi siswi di SMP tersebut pada 2013 lalu.
"Saya salut kepada adik-adik yang sudah berani bicara dan melapor," kata dia.
Menurut Azalea, banyak kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan yang tidak terungkap karena korban takut melapor.
Relasi kuasa antara guru dan murid kerap membuat korban memilih diam.
Dia mengusulkan pembentukan satuan tugas pencegahan pelecehan di setiap sekolah.
Satgas tersebut diharapkan melibatkan guru maupun siswa agar pengawasan lebih efektif.
"Kalau perlu ada forum siswa antikekerasan seksual di sekolah. Jadi ketika ada kasus, mereka punya keberanian untuk melapor," kata dia. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono