RADARSOLO.COM - Kasus pelecehan seksual terhadap siswi SMP di Wonogiri selama bertahun-tahun dengan tersangka J, 55, guru olahraga sekolah setempat, menjadi pelajaran pahit.
Meski demikian, dari kasus tersebut, para korban mulai tumbuh keberanian dan kesadaran untuk melapor.
"Dari kasus ini kita lihat anak-anak sudah melek terkait hal ini (pelecehan)," ujar Ketua DPRD Wonogiri Sriyono baru-baru ini.
Baca Juga: Medical Check-Up Murah hingga Games Anak, JCI x Indriati Health Fest Siap Digelar 21-23 Mei
Atas hal ini, Sriyono menilai, edukasi terkait kekerasan seksual dan apa yang harus dilakukan oleh sang anak ketika mengetahui atau melihat hal tersebut bisa ditingkatkan.
Edukasi perlu ditingkatkan hingga di sekolah wilayah pedesaan yang ada di Kota Sukses.
"Kalau yang diedukasi siswanya mungkin lebih bagus. Pelaku kan tidak sendiri, ada anak yang menjadi korban," ungkapnya.
Sriyono pun menegaskan, dia mendukung anggaran untuk edukasi semacam itu.
APBD Wonogiri menurutnya bisa digunakan untuk memberikan edukasi kepada siswa dan membekali mereka dengan pengetahuan terkait kekerasan seksual.
"Coba di (APBD) perubahan dianggarkan. Menggandeng pihak-pihak yang kompeten di bidang itu lalu muter ke sekolah-sekolah nanti kita anggarkan. Mungkin solusi yang bagus," papar politisi PDI Perjuangan itu.
Baca Juga: Ditahan Imbang Persebaya, Nasib Persis Solo Makin Diujung Tanduk
Meski demikian, solusi semacam itu menurutnya bukanlah suatu solusi yang langsung menyasar ke sistem.
Perlu ada pembekalan berulang yang diberikan tiap tahunnya. "Kan anak-anaknya kan berubah-ubah (naik kelas)," kata dia.
Diketahui, J ditetapkan sebagai tersangka pelecehan siswinya. Aksi bejat J sudah dilakukan setidaknya selama 13 tahun.
Data terbaru, terdapat delapan siswi yang menjadi korban telah melapor. Ada pula alumni menjadi sasaran kekejian J. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono