RADARSOLO.COM - Pemkab Wonogiri mulai memperketat kesiapsiagaan menghadapi ancaman krisis air bersih menyusul datangnya musim kemarau.
Langkah antisipasi dilakukan secara ganda, yakni melalui penanganan kedaruratan jangka pendek dan pembangunan infrastruktur permanen untuk jangka panjang.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan warga di wilayah rawan, terutama di bagian selatan Wonogiri, tetap mendapatkan akses air bersih melalui pengalokasian anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) serta percepatan proyek pipanisasi berskala besar.
Berdasarkan pemetaan data pemerintah daerah, sedikitnya terdapat tujuh kecamatan yang masuk dalam kategori rawan kekeringan, yaitu:
- Pracimantoro
- Paranggupito
- Giritontro
- Nguntoronadi
- Eromoko
- Giriwoyo
- Manyaran
Untuk wilayah-wilayah ini, Pemkab telah menyiagakan armada bantuan air bersih yang siap dikirimkan sewaktu-waktu jika debit sumber air warga mulai menyusut drastis.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyatakan, anggaran BTT telah disiapkan sebagai bantalan logistik untuk aksi cepat tanggap di lapangan.
"Ini nanti untuk dropping air bersih ketika dibutuhkan," ujar Setyo baru-baru ini.
Meski bantuan air tangki tetap disediakan, Bupati menekankan bahwa skema ini hanyalah solusi sementara untuk meredam dampak kekeringan di tingkat rumah tangga.
Pemkab Wonogiri kini lebih serius mengalihkan fokus pada penanganan permanen agar krisis air tahunan tidak terus berulang.
Salah satu proyek mercusuar yang mulai dikerjakan pada tahun 2026 ini adalah pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang bersumber dari Waduk Pidekso.
Infrastruktur ini dirancang untuk melayani kebutuhan air perpipaan di lima kecamatan sekaligus, yang selama ini menjadi langganan kekeringan.
Setyo menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur ini akan memberikan perubahan signifikan bagi ketahanan air di wilayah selatan.
"Air bersih perpipaan dari Waduk Pidekso ini di Kecamatan Baturetno, Giriwoyo, Giritontro, Paranggupito dan Eromoko mulai pembangunan tahun 2026 ini," kata Bupati.
Baca Juga: 418 Calon Siswa Berebut 150 Kursi Kelas PK SMPN 24 Dan SMPN 25 Solo, Hasil Psikotes Jadi Penentu
Selain SPAM Pidekso, Pemkab juga terus memperluas jaringan Sambungan Rumah (SR) di wilayah Paranggupito dan Pracimantoro yang memanfaatkan sumber air tanah dan jaringan perpipaan yang sudah ada.
Bupati mengakui bahwa pembangunan jaringan perpipaan dan program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mengandalkan bantuan tangki air.
Dengan adanya jaringan yang masuk langsung ke rumah warga, biaya sosial dan ekonomi akibat kekeringan dapat ditekan secara drastis.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menambah anggaran infrastruktur air bersih di tahun-tahun mendatang hingga seluruh wilayah rawan terkoneksi dengan layanan air permanen.
"Selain langkah darurat, Pemkab juga menyiapkan penanganan permanen melalui pembangunan infrastruktur air bersih," beber Setyo.
Baca Juga: Dikepung Polisi dari Berbagai Arah, Pelaku Balap Liar di Jalan WS Klaten Tak Berkutik
Ia menggarisbawahi pentingnya integrasi antara sumber air baku yang melimpah dengan sistem distribusi yang kuat.
"Nanti dropping air bersih, tapi itu bukan penyelesaian secara permanen. Kami juga membangun Pamsimas, kemudian perpipaan dalam rangka mengatasi masalah kekurangan air secara permanen," pungkas Setyo. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono