RADARSOLO.COM - Kawasan dirgantara Kabupaten Wonogiri makin meriah dengan hadirnya puluhan parasut warna-warni yang menghiasi langit di atas Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur (OW WGM), Minggu (17/5/2026).
Komunitas paralayang setempat sukses menggelar agenda latihan gabungan (latgab) berskala regional yang dikemas dalam bentuk mini kompetisi.
Selain menjadi panggung unjuk gigi bagi para pilot lokal, ajang ini didesain sebagai instrumen strategis untuk mendongkrak popularitas sport tourism berbasis wisata petualangan.
Baca Juga: Anak Bawah Umur di Giritontro Wonogiri yang Dianiaya Warga Disebut Sering Mencuri
Agenda yang mempertemukan puluhan penerbang berbakat ini mengusung misi ganda.
Di satu sisi, kegiatan ini diproyeksikan sebagai wadah seleksi dan pemetaan kekuatan atlet menjelang pelaksanaan pesta olahraga multievent terbesar di tingkat regional.
Karakteristik angin di kawasan perbukitan Wonogiri yang menantang dinilai sangat ideal untuk menguji mental bertanding serta ketepatan mendarat (accuracy) para atlet.
Ketua Panitia Kegiatan Kuncoro menjelaskan, fokus utama dari berkumpulnya para penerbang ini adalah aspek pembinaan yang terukur.
"Konsepnya latihan bersama, kemudian juga bertujuan untuk pembinaan atlet daerah karena mempersiapkan ajang olahraga Porprov di bulan Agustus mendatang," ujar Kuncoro.
Melalui simulasi perlombaan ini, manajemen masing-masing pengurus cabang olahraga dapat melihat kelemahan teknis para atletnya sebelum diturunkan dalam perebutan medali di bulan Agustus.
Titik lepas landas (take-off) dipusatkan di Bukit Watu Lumbung, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri Kota.
Tempat ini dipilih karena memiliki elevasi dan orientasi arah angin yang konsisten, serta menyuguhkan lanskap pemandangan perairan Waduk Gajah Mungkur yang menakjubkan dari ketinggian.
Penyelenggaraan event ini sengaja diselaraskan dengan agenda kultural daerah guna menambah kemeriahan perayaan momentum berdirinya kabupaten.
Kuncoro menambahkan, integrasi event olahraga dengan agenda daerah menjadi cara efektif untuk menarik perhatian pemangku kebijakan.
Baca Juga: Sempat Buron, Pelaku Curanmor Asal Banten Diringkus Polresta Surakarta di Indekos Wilayah Kartasura
"Kebetulan ini bulan Mei bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri, maka konsep kegiatannya sekalian untuk menyambut hari jadi Wonogiri," katanya.
Delegasi atlet yang meramaikan bukit Watu Lumbung didominasi oleh perwakilan dari berbagai kota/kabupaten di Solo Raya serta beberapa pengurus cabang dari wilayah Jawa Tengah lainnya.
"Total ada puluhan atlet yang ikut. Dari Solo Raya dan Jawa Tengah," ungkapnya.
Mengingat paralayang merupakan kategori olahraga ekstrem (high risk sport), panitia menerapkan regulasi yang ketat dan tidak membuka pendaftaran untuk kategori penghobi awam atau masyarakat umum.
Setiap peserta yang berada di area waiting list diwajibkan menunjukkan dokumen sertifikasi kompetensi terbang resmi.
Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh prosedur kedirgantaraan dipatuhi demi menihilkan risiko insiden selama penerbangan.
Apresiasi terhadap konsistensi Wonogiri dalam membina cabang olahraga ini datang dari tokoh olahraga kedirgantaraan nasional.
Pentolan atlet paralayang di Jawa Tengah Thomas Widyananto memandang bukit Watu Lumbung memiliki kelayakan yang sangat baik untuk dikembangkan sebagai sirkuit nasional di masa depan.
"Ini ada beberapa level. Harapannya event ini tidak berlangsung ini saja, tapi bisa ada event lain di tingkat nasional yang digelar di Wonogiri. Semakin banyak event semakin bagus," papar Thomas.
Sinergi antara prestasi atlet dan pengembangan ekonomi lewat sektor pariwisata diharapkan dapat terus berjalan beriringan. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono