RADARSOLO.COM— Perum Jasa Tirta (PJT) I melakukan penyesuaian teknis terhadap realisasi alokasi distribusi air di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri.
Langkah ini ditempuh sebagai bentuk kesiapan menghadapi fase musim kemarau panjang guna menjamin stabilitas pasokan air baku di sepanjang kawasan hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo.
Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo 1 Teguh Bayu Aji menjelaskan, volume debit air masuk (inflow) menuju bendungan WGM selama musim kemarau diproyeksikan berada di bawah angka kebutuhan riil masyarakat dan industri di sektor hilir.
Adapun puncak siklus kemarau tahun ini diprediksi mulai terjadi pada Juni mendatang.
"Rata-rata inflow air ke waduk selama musim kemarau hanya sekira 5 hingga 10 meter kubik per detik," kata Teguh Bayu Aji belum lama ini.
Indeks tersebut menunjukkan adanya kesenjangan volume, mengingat total kebutuhan pasokan air di wilayah hilir Bengawan Solo menyentuh angka rata-rata 25 meter kubik per detik.
Sebagai langkah mitigasi dampak El Nino, PJT I mengimplementasikan skema simulasi pembatasan serta penyesuaian volume pintu air secara berkala.
Kendati demikian, otoritas pengelola memastikan cadangan volume air di dalam waduk masih berada dalam batas aman hingga akhir tahun.
Hal ini dipengaruhi oleh tingginya intensitas curah hujan pada fase penutup musim penghujan lalu yang mendongkrak tinggi muka air di atas estimasi awal.
"Awalnya kami khawatir dengan potensi kemarau panjang. Namun, pada akhir musim hujan lalu curah hujan cukup tinggi sehingga elevasi air sempat berada satu meter di atas pola normal," jelas Teguh.
"Dengan demikian, tampungan air di Wonogiri dipastikan aman sampai musim hujan berikutnya," imbuhnya.
Di samping mengatur manajemen arus air keluar (outflow), PJT I juga menjalankan program perlindungan lingkungan jangka panjang.
Kegiatan tersebut diwujudkan melalui proyek pembuatan sumur resapan di sepanjang DAS serta penggalangan aksi penanaman pohon pada area sabuk hijau (green belt) di sekeliling waduk.
Di sisi lain, Pemkab Wonogiri telah memetakan klaster wilayah geografis yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana kekeringan tahun ini.
Hasil pemetaan mencatat adanya tujuh wilayah kecamatan yang diprediksi akan terdampak kelangkaan air.
Meliputi Kecamatan Pracimantoro, Paranggupito, Giritontro, Giriwoyo, Nguntoronadi, Eromoko, dan Manyaran.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno sebelumnya mengonfirmasi bahwa jajaran eksekutif telah mengalokasikan pos anggaran khusus melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT) pada APBD berjalan.
Dana darurat tersebut nantinya dialokasikan secara penuh untuk membiayai operasional armada truk tangki dalam mendistribusikan bantuan air bersih komunal (dropping) ke lokasi hunian warga yang mengalami krisis air bersih. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono