Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Rambak Wonogiri, dari Lauk di Meja Makan, Kini Jadi Primadona Oleh-oleh

Iwan Adi Luhung • Jumat, 5 Juni 2026 | 16:21 WIB
Rambak yang diproduksi warga Dusun Kedungsono RT 04 RW 06 Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri Kota. (IWAN ADI/RADAR SOLO)
Rambak yang diproduksi warga Dusun Kedungsono RT 04 RW 06 Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri Kota. (IWAN ADI/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Rambak, kuliner ringan yang kerap menjadi lauk pendamping ternyata menjadi salah satu oleh-oleh yang kerap diburu.

Harganya yang murah dan isinya yang banyak, menjadikan makanan berbahan dasar tepung itu jadi buah tangan.

Banyak produsen rambak yang tersebar di Wonogiri.

Salah satunya perajin rambak adalah Dwi Prasetyo.

Baca Juga: Pelatihan Fotografi Bikin Kuliner Khas Kampung Batik Kauman Tampil Kekinian

Warga Dusun Kedungsono RT 04 RW 06 Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri Kota itu memproduksi rambak yang dilabeli Rambak Anisa.

Dwi menceritakan, dulu sekira 2004-2011. Saat itu, dia membeli rambak mentah lalu digoreng dan dijual.

Setelah vakum saat menjabat sebagai kepala desa, dia kembali terjun memproduksi rambak pada November 2024 lalu.

"Saat itu produksi sendiri. Ternyata peminatnya banyak," ujar dia Jumat (5/6/2026).

Awalnya dia memproduksi 5 kilogram (kg) rambak, kini dia bisa memproduksi rata-rata 80 kg rambak per hari.

Baca Juga: Kirab Bhinneka Gandekan Naik Kelas, Tonjolkan UMKM Lurik, Batik, Dan Kuliner

Adapun bahan baku rambak diantaranya adalah tepung terigu, tepung tapioka lalu bumbu dapur seperti bawang putih, garam dan penyedap. 

Bahan-bahan itu dibuat adonan.

"Lalu dilangseng. Terus dijemur dua hari lalu dirajang. Jemur lagi dan packing untuk yang mentah. Prosesnya bisa tiga hari. Rambaknya rasanya gueih," papar Dwi.

Dia juga memilah rambak dengan kondisi bagus. Untuk rambak hasil sortiran seperti ukuran yang terlalu kecil, dia menjualnya tersendiri dengan harga yang lebih murah.

Adapun harga rambak mentah dibanderol Rp 18 ribu per kilogram. Sementara untuk rambak yang sudah digoreng matang dibanderol Rp 28 ribu per kilogram.

Baca Juga: Cerita Kuliner Wali Kota Solo: Dari Menu Wajib Lidah Sapi hingga Rahasia SBY Lahap Kambing Goreng

Dwi mengirim rambaknya ke berbagai wilayah. Mulai dari berbagai kecamatan di Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar bahkan sampai ke Jakarta.

"Peminat rambak ternyata banyak sekali," beber Dwi.

Saat lebaran lalu, produksi rambak melonjak drastis hampir dua kali lipat.

Dalam satu hari, Dwi bisa memproduksi rambak hinggal lebih dari 150 kilogram.

"Jelang Idul Fitri sampai H+ itu pesanan banyak. Banyak juga yang datang pesan ke rumah. Mau dibawa untuk oleh-oleh di perantauan," papar dia.

Menurut Dwi, rambak selalu punya tempat di hati masyarakat. Sebab, masyarakat kerap kali butuh pelengkap lauk seperti rambak ataupun kerupuk. (al)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#rambak wonogiri #oleh-oleh khas wonogiri #Primadona