RADARSOLO.COM- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri akan melakukan regrouping sekolah di tahun ini.
Sebanyak 13 SD dan 2 SMP negeri masuk dalam radar regrouping.
Kepala Disdikbud Wonogiri Sriyanto mengatakan, kebijakan regrouping dilakukan sebagai langkah strategis pemerintah daerah untuk menyikapi minimnya jumlah siswa di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Persiharjo vs Pasuruan United Berakhir 0-0, Persaingan Grup X 32 Besar Liga 4 Makin Ketat
Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan belajar mengajar menjadi kurang efektif karena jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar sangat minim.
"Regrouping bukan hal baru. Tahun lalu kami sudah menggabungkan 15 SD yang jumlah siswanya sedikit. Tahun ini penataan kami perluas hingga jenjang SMP," ujar Sriyanto.
Berdasarkan hasil pemetaan sementara, terdapat dua SMP negeri yang akan digabung.
Sementara itu, untuk jenjang SD terdapat sekitar 13 sekolah.
Rencana tersebut menunggu rekomendasi dan persetujuan dari kepala daerah.
Disdikbud Wonogiri saat ini masih melakukan kajian dan proses administrasi sebelum menetapkan sekolah-sekolah yang akan masuk dalam program regrouping tahun 2026.
Menurut Sriyanto, kebijakan tersebut dilatarbelakangi sejumlah faktor.
Selain menurunnya jumlah anak usia sekolah, terdapat sekolah-sekolah yang lokasinya berdekatan, sehingga dinilai kurang efisien dari sisi operasional.
Kondisi itu juga berdampak pada distribusi tenaga pendidik yang tidak seimbang.
"Beberapa sekolah memiliki jumlah siswa yang sangat sedikit, sementara sekolah lain lebih banyak. Ini berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran maupun pemerataan guru," beber dia.
Selain itu, minimnya jumlah siswa juga berdampak pada kemampuan sekolah dalam menjalankan operasional.
Baca Juga: Dua Pengedar Sabu Asal Solo Ditangkap di Slogohimo Wonogiri
Pasalnya, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dihitung berdasarkan jumlah peserta didik sehingga sekolah dengan siswa sedikit menerima anggaran yang lebih terbatas.
Meski demikian, Sriyanto menegaskan, tujuan utama regrouping bukan sekadar mengurangi jumlah sekolah.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih ideal dan kompetitif bagi siswa.
"Kalau jumlah siswa dalam satu kelas ideal, motivasi anak untuk berkompetisi dan berkembang akan lebih baik. Di sisi lain, kebijakan ini menjadi instrumen penting untuk pemerataan fasilitas pendidikan dan tenaga kependidikan agar lebih seimbang dan berkeadilan di seluruh wilayah Wonogiri," pungkasnya. (al)
Editor : Tri Wahyu Cahyono