RADARSOLO.COM - Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami remaja di Indonesia.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat menurunkan konsentrasi belajar, kebugaran, hingga produktivitas remaja.
Kepala Instalasi Gizi RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Cicilia Widuri, S. Gz. didampingi petugas Instalasi Gizi Dania Apriliani, S. Gz. menjelaskan masa remaja merupakan periode penting karena terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi harus dilakukan secara optimal untuk mendukung tumbuh kembang yang sehat.
Menurut dia, remaja merupakan kelompok usia 10 tahun hingga sebelum berusia 18 tahun, termasuk remaja yang telah menikah.
Upaya kesehatan pada kelompok usia ini bertujuan mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, berkualitas, dan produktif saat memasuki usia dewasa.
Berdasarkan Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar satu dari enam anak usia 5–14 tahun atau 16,3 persen mengalami anemia.
Sementara pada kelompok usia 15–24 tahun, prevalensinya mencapai 15,5 persen.
"Remaja putri menjadi kelompok yang paling rentan mengalami anemia. Karena itu, peran keluarga sangat penting, mulai dari menyediakan makanan bergizi, mengawasi pola makan anak, mengingatkan konsumsi tablet tambah darah, hingga mendukung pemeriksaan kesehatan," ujar Cicilia.
Cicilia menjelaskan, anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal sehingga kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh berkurang.
Pada anak usia 12–14 tahun, anemia terjadi ketika kadar hemoglobin berada di bawah 12 gram per desiliter.
"Ada berbagai faktor dapat menyebabkan anemia pada remaja," beber dia.
Adapun fator itu di antaranya kurang mengonsumsi makanan sumber zat besi, menstruasi pada remaja putri, pola makan yang tidak teratur atau diet berlebihan, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori namun rendah gizi, infeksi cacing atau penyakit kronis, serta gangguan penyerapan zat besi.
Gejala anemia yang paling sering muncul dikenal dengan istilah 5L, yakni lesu, letih, lemah, lelah, dan lalai.
Selain itu penderita juga mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, sering mengalami pusing, mata berkunang-kunang, serta terlihat pucat pada wajah, bibir, kelopak mata, kulit, kuku, maupun telapak tangan.
"Anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran, dan produktivitas remaja. Khusus remaja putri, kondisi ini juga berisiko berlanjut hingga masa kehamilan sehingga berpotensi menjadi calon ibu yang mengalami anemia," paparnya.
Untuk mencegah anemia, Cicilia menekankan pentingnya menerapkan pola makan sehat dengan prinsip gizi seimbang.
Prinsip tersebut meliputi konsumsi makanan yang beragam, membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, rutin melakukan aktivitas fisik, serta memantau berat badan secara teratur.
Selain itu, masyarakat juga diimbau memperbanyak konsumsi sayur dan buah, mengonsumsi sumber protein yang cukup, membatasi makanan manis, asin, dan berlemak, membiasakan sarapan, mencukupi kebutuhan air minum, serta menjaga kebersihan diri.
Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) juga penting bagi remaja putri sesuai anjuran program nasional, yakni satu tablet setiap minggu sepanjang tahun yang dapat diperoleh melalui sekolah maupun puskesmas," kata dia.
"Pencegahan anemia juga perlu didukung dengan menjaga kebersihan untuk menghindari cacingan serta melakukan skrining kesehatan melalui Cek Kesehatan Sekolah agar anemia dapat dideteksi sejak dini," pungkas dia. (al)
Editor : Nur Pramudito