Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Warga Geruduk SMKN 1 Puhpelem Wonogiri: Protes Anak Setempat Tak Bisa Tertampung, Tergusur Calon Murid dari Jatim

Iwan Adi Luhung • Rabu, 17 Juni 2026 | 17:31 WIB
Orang tua calon murid baru beraudiensi dengan pihak SMKN 1 Puhpelem Wonogiri. Mereka khawatir, jika anaknya tidak diterima di sekolah setempat, bisa menjadi anak putus sekolah karena jarak fasilitas pendidikan lainnya cukup jauh. (ISTIMEWA)
Orang tua calon murid baru beraudiensi dengan pihak SMKN 1 Puhpelem Wonogiri. Mereka khawatir, jika anaknya tidak diterima di sekolah setempat, bisa menjadi anak putus sekolah karena jarak fasilitas pendidikan lainnya cukup jauh. (ISTIMEWA)

RADARSOLO.COM-Puluhan warga menggeruduk SMKN 1 Puhpelem, Wonogiri, Rabu (17/6/2026).

Mereka khawatir karena anaknya tak tertampung ke sekolah itu dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB).

Salah satu orang tua anak yang enggan dikorankan namanya mengatakan, anaknya tergeser dan terancam tak diterima di SMKN 1 Puhpelem.

Baca Juga: Gelar Evaluasi Pertengahan Juni 2026, Damkar Wonogiri Catat 17 Kasus Kebakaran Sejak Awal Tahun

Dari jalur seleksi terdekat (zonasi), anaknya tergeser karena kuotanya hanya 10 persen atau 24 siswa untuk dua jurusan.

Padahal, domisilinya masih satu kelurahan dengan SMKN 1 Puhpelem. Sementara di jalur prestasi nilai anaknya kalah dari siswa dari wilayah lain.

"Warga Giriharjo tergeser. Terisi dari Jawa Timur. Ada yang dari Magetan dan Ponorogo juga ada," ujar dia.

Menurut sumber tersebut, polemik di SMKN 1 Puhpelem kerap terjadi saat penerimaan siswa baru.

Hampir tiap tahun, ada saja permasalahan akan sistem penerimaan siswa.

"Tadi penjelasan sekolah ada sistem dari atasan. Jadi karena sistemnya. Cuma, kalau di desa kan tidak seperti di kota. Di kota sekolah pilihan banyak, di Puhpelem ya cuma ini," beber sumber radarsolo.jawapos.com.

Baca Juga: Tinggal Selangkah ke 16 Besar Liga 4, Persebi Boyolali Justru Tersungkur di Kandang Sendiri

Dia menambahkan, ada lebih dari 20 orang tua anak yang mendatangi sekolah pada Rabu.

Ada potensi siswa yang tak bisa tertampung ke SMK tersebut putus sekolah.

"Nyuwun sewu, sebagian ekonominya menengah ke bawah. Kalau sekolah jauh, masalah biaya juga berpengaruh. Kalau di sini kan dekat, biayanya juga minim. Khawatirnya kan jadi putus sekolah," kata dia.

Terpisah, Waka Sarpras SMKN 1 Puhpelem Lulus Budiarto mengamini adanya puluhan orang tua siswa yang datang dan mengeluhkan SPMB di sekolah tersebut.

Baca Juga: Gondol Motor, Residivis Curanmor Ditangkap Usai Aksi Kejar-kejaran dengan Warga Wonosari Klaten Sejauh 4 Km

Menurutnya, warga mempertanyakan jika anaknya tidak sekolah di sana maka akan sekolah dimana.

"Dengan pertimbangan jarak, biaya dan sebagainya. Itu dari warga," beber dia.

Merespons hal tersebut, pihak sekolah juga menyampaikan kepada warga bahwa pihak SMK N 1 Puhpelem hanya menjalankan sistem yang ada.

Meski demikian, rencananya pada Kamis (18/6/2026) akan dilangsungkan pertemuan lanjutan antara orang tua anak, pihak sekolah bersama anggota legislatif dari wilayah setempat.

Baca Juga: Tutup Tahun Ajaran 2025/2026, Ribuan Siswa SD Di Solo Meriahkan Kirab Budaya

"Besok rencananya penyaluran aspirasi, harapannya ada masukan dan pendampingan yang diberikan. Harapannya bisa menambah rombel. Kami juga sudah melaporkan hal ini ke Cabdin," pungkas Lulus. (al)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#tergusur #khawatir putus sekolah #spmb #smkn 1 puhpelem #orang tua murid