RADARSOLO.COM - Ratusan warga Dusun Guntur Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri menggelar tradisi Sedekah Bumi atau Bersih Dusun sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki dan hasil panen.
Tradisi tahunan yang digelar Senin (20/7/2026) di kawasan pesisir Pantai Nampu itu berlangsung meriah dan menjadi magnet bagi warga perantauan untuk pulang kampung.
Puncak acara ditandai dengan kirab budaya dua gunungan hasil bumi raksasa, yakni Gunungan Jaler (laki-laki) dan Gunungan Setri (perempuan).
Iring-iringan peserta berkostum adat Jawa berjalan menyusuri jalan Dusun Guntur menuju lokasi kenduri di kediaman kepala desa.
Berbagai hasil pertanian lokal menghiasi kedua gunungan tersebut, mulai dari sayur-mayur, tanaman pangan, buah-buahan hingga jajanan pasar tradisional.
Setelah doa bersama dipanjatkan, ratusan warga dari berbagai usia langsung berebut isi gunungan yang diyakini membawa berkah dan keselamatan untuk musim tanam berikutnya.
Selain kirab gunungan, ratusan keluarga turut membawa sayur nangka muda untuk dimasak bersama.
Hidangan tersebut kemudian dibagikan secara gratis dan disantap bersama sebagai simbol kebersamaan warga.
Kepala Dusun Guntur Widhi Hartono mengatakan, Sedekah Bumi merupakan agenda budaya tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.
Baca Juga: Dorong Lahirnya Ikon Susu Lokal, Komisi II DPRD Wonogiri Tinjau Sentra Sapi Perah Bulukerto
Tradisi ini juga menjadi momen berkumpulnya warga yang merantau di berbagai daerah.
"Seluruh elemen warga berpartisipasi penuh, termasuk para perantau yang sengaja pulang. Ini adalah wujud syukur kami atas karunia panen yang melimpah, sekaligus ikhtiar batin memohon doa agar pada tahun-tahun mendatang hasil pertanian makin melimpah dan warga dijauhkan dari segala bencana," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Paranggupito Joko Trihastono mengapresiasi konsistensi masyarakat Dusun Guntur dalam menjaga tradisi leluhur.
Menurutnya, tradisi Bersih Dusun memang rutin digelar di seluruh desa di Kecamatan Paranggupito.
Baca Juga: SLBN Solo Krisis Guru, Terpaksa Pangkas Rombel Dari Idealnya 60 Jadi 40
Namun pelaksanaan di Dusun Guntur memiliki kemasan yang lebih semarak.
Selain kirab budaya, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan Reog Ponorogo, jathilan, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi hiburan bagi masyarakat.
"Kami mendorong potensi tradisi lokal seperti di Dusun Guntur ini dikemas lebih baik sehingga tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menarik wisatawan berkunjung ke kawasan pesisir Paranggupito," kata Joko. (al)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com