RADARSOLO.COM- Harga ubi madu di tingkat petani Kecamatan Bulukerto mencapai Rp 8.000 per kilogram.
Angka tersebut menjadi harga tertinggi yang pernah dirasakan petani ubi madu di wilayah tersebut.
Salah satu petani ubi madu asal Desa Geneng Kecamatan Bulukerto Rohman Setiawan mengatakan tingginya harga membuat banyak petani semakin mantap menjadikan ubi madu sebagai komoditas utama.
Selain perawatannya relatif mudah, harga ubi madu dinilai stabil dan cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.
"Sekarang harganya tembus Rp8.000 per kilogram di tingkat petani. Ini rekor harga tertinggi yang pernah kami rasakan," ujar dia baru-baru ini
Menurut Rohman, produktivitas ubi madu secara ideal dapat mencapai 22 ton per hektare.
Rata-rata petani di Bulukerto menggarap lahan seluas 4.000 hingga 8.000 meter persegi. Untuk lahan 4.000 meter persegi, kebutuhan modal tanam berkisar Rp 10 juta.
Dengan harga saat ini, petani berpeluang meraih pendapatan kotor hingga Rp 50 juta dalam satu kali panen dengan masa tanam sekitar empat bulan.
"Untuk hasil panen selama ini dipasarkan ke berbagai daerah di luar Wonogiri sesuai permintaan," beber dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Wonogiri Baroto Eko Pujanto membenarkan Bulukerto menjadi sentra utama produksi ubi madu di Kabupaten Wonogiri.
Luas tanam ubi madu di kecamatan tersebut telah mencapai sekira 130 hektare yang tersebar di Desa Krandegan, Conto, Tanjung, dan Geneng.
Sementara itu, Kecamatan Slogohimo mulai mengembangkan budi daya ubi madu meski luas tanamnya masih terbatas.
"Komoditas ini hanya dapat tumbuh optimal pada lahan dengan karakteristik tanah dan kondisi suhu tertentu sehingga tidak semua wilayah cocok untuk pengembangannya," kata dia. (al)
Editor : Nur PramuditoSumber : Radar Solo